<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Menuju generasi yang Sholeh</title>
	<atom:link href="http://generasianaksholeh.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://generasianaksholeh.wordpress.com</link>
	<description>Oleh Ustad Yusuf Iskandar</description>
	<lastBuildDate>Fri, 26 Mar 2010 09:55:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='generasianaksholeh.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Menuju generasi yang Sholeh</title>
		<link>http://generasianaksholeh.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://generasianaksholeh.wordpress.com/osd.xml" title="Menuju generasi yang Sholeh" />
	<atom:link rel='hub' href='http://generasianaksholeh.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Goresan Nasehat untuk Wanita Karir</title>
		<link>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/03/26/goresan-nasehat-untuk-wanita-karir/</link>
		<comments>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/03/26/goresan-nasehat-untuk-wanita-karir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 07:43:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fajarilahibatam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://generasianaksholeh.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Goresan Nasehat untuk Wanita Karir Fenomena wanita berkarir sebenarmya bukanlah fenomena yang baru muncul kemarin sore, melainkan sejak zaman awal diciptakannya manusia. Hanya cara dan istilahnya yang berbeda pada masing masing zaman. Dan hal yang perlu diperhatikan oleh kita semua khususnya para Muslimah terkait fenomena tersebut adalah tentang bagaimana cara wanita berkarir dalam pandangan Islam. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=generasianaksholeh.wordpress.com&amp;blog=12138555&amp;post=88&amp;subd=generasianaksholeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><span style="color:#095220;"><strong>Goresan Nasehat untuk Wanita Karir<img class="alignright size-full wp-image-92" title="karir" src="http://generasianaksholeh.files.wordpress.com/2010/03/karir.gif?w=600" alt=""   /></strong></span></h1>
<p>Fenomena wanita berkarir sebenarmya bukanlah fenomena yang baru  muncul kemarin sore, melainkan sejak zaman awal diciptakannya manusia.  Hanya cara dan istilahnya yang berbeda pada masing masing zaman. Dan hal  yang perlu diperhatikan oleh kita semua khususnya para Muslimah terkait  fenomena tersebut adalah tentang bagaimana cara wanita berkarir dalam  pandangan Islam. Apa–apa saja yang diperbolehkan dan dilarang dalam  Islam terkait wanita berkarir.</p>
<p>Gejolak tentang karir wanita dan wanita karir dewasa ini semakin  hangat, juga di negara Indonesia yang kita cintai ini. Banyak kalangan  yang serius mencurahkan perhatiannya akan masalah ini, termasuk juga  komunitas yang menamakan diri mereka kaum Feminis dan pemerhati wanita.</p>
<p>Mereka sering mengusung tema “<strong>pengungkungan</strong>” Islam  terhadap wanita dan mempromosikan motto <strong>emansipasi</strong> dan  persamaan hak di segala bidang tanpa terkecuali atau lebih dikenal  dengan sebutan <strong>kesetaraan gender</strong>. Banyak wanita  muslimah terkecoh olehnya, terutama mereka yang tidak memiliki <em>basic</em> ilmu pemahaman keagamaan yang kuat dan memadai.</p>
<p>Semoga tulisan ini menggugah wanita-wanita muslimah untuk kembali  kepada fithrah mereka dan memahami hak dan kewajiban Allah atas dirinya .  Amîn.</p>
<p><strong>Kondisi Wanita di Dunia Barat</strong></p>
<ul>
<li>Dari sisi historis, terjunnya kaum wanita ke lapangan untuk bekerja  dan berkarir semata-mata karena unsur keterpaksaan. Ada dua hal penting  yang melatarbelakanginya:<strong><em> </em></strong><strong><em>Pertama,</em></strong> terjadinya revolusi industri yang mengundang arus urbanisasi kaum petani  pedesaan, tergiur untuk mengadu nasib di perkotaan, karena himpitan  sistem kapitalis yang melahirkan tuan-tuan tanah yang rakus. Berangkat  ke perkotaan mereka berharap mendapatkan kehidupan yang lebih layak  namun realitanya, justru semakin sengsara terpuruk dan menghinakan diri  dengan menjadi budak pemilik harta. Mereka mendapat upah yang rendah,dan  kadang diperlakukan dengan semena-mena layaknya budak dan tuan.<strong><em><br />
</em></strong><strong><em><span id="more-88"></span><br />
Kedua,</em></strong> kaum kapitalis dan tuan-tuan tanah yang rakus sengaja menggunakan momen  terjunnya kaum wanita dan anak-anak, dengan lebih memberikan porsi  kepada mereka di lapangan pekerjaan, karena mau diupah lebih murah  daripada kaum lelaki, meskipun dalam jam kerja yang panjang dan  melelahkan.</li>
</ul>
<ul>
<li>Kehidupan yang dialami oleh wanita di Barat yang demikian  mengenaskan, sehingga menggerakkan nurani sekelompok pakar untuk  membentuk sebuah organisasi kewanitaan yang diberi nama <em>Humanitarian  Movement</em> yang bertujuan untuk membatasi <em>eksploitasi </em>kaum  kapitalis terhadap para buruh, khususnya dari kalangan anak-anak.  Organisasi ini berhasil mengupayakan undang-undang perlindungan anak,  akan tetapi tidak demikian halnya dengan kaum wanita. Mereka tetap saja  dihisap darahnya oleh kaum kapitalis tersebut. Laksana lintah menghisap  mangsa yang tidak akan dilepas hingga tidak ada tempat diperutnya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Hingga saat ini pun, kedudukan wanita karir di Barat belum terangkat  dan masih saja mengenaskan, meskipun sudah mendapatkan sebagian hak  mereka. Di antara indikasinya, mendapatkan upah lebih kecil daripada  kaum laki-laki, keharusan membayar mahar kepada laki-laki bila ingin  menikah, keharusan menanggung beban penghidupan keluarga bersama sang  suami, dan lain sebagainya yang jelas keluar dari fitrah wanita .</li>
</ul>
<p><strong>Beberapa Dampak Negatif dari Terjunnya Wanita untuk Berkarir</strong></p>
<p>Di antara dampak-dampak negatif tersebut adalah:</p>
<ol>
<li>Penelitian kedokteran di lapangan (dunia Barat) menunjukkan telah  terjadi perubahan yang amat signifikan terhadap bentuk tubuh wanita  karir secara biologis, sehingga menyebabkannya kehilangan naluri  kewanitaan. Meskipun jenis kelamin mereka tidak berubah menjadi  laki-laki, namun jenis wanita semacam ini dijuluki sebagai jenis kelamin  ke tiga. Menurut data statistik, kebanyakan penyebab kemandulan para  istri yang merupakan wanita karir tersebut bukan karena penyakit yang  biasa dialami oleh anggota badan, tetapi lebih diakibatkan oleh ulah  wanita di masyarakat Eropa yang secara total, baik dari aspek materiil,  pemikiran maupun biologis lari dari fithrahnya (yakni sifat keibuan).</li>
<li>Penyebab lainnya adalah upaya mereka untuk mendapatkan persamaan hak  dengan kaum laki-laki dalam segala bidang. Hal inilah yang secara  perlahan melenyapkan sifat keibuan mereka, banyaknya terjadi kemandulan  serta mandegnya air susu ibu (ASI) sebagai akibat perbauran dengan kaum  laki-laki.</li>
<li>Di barat, muncul fenomena yang mengkhawatirkan sekali akibat  terjunnya kaum wanita sebagai wanita karir, yaitu terjadinya tindak  kekerasan terhadap anak-anak kecil berupa pukulan yang keras, sehingga  dapat mengakibatkan mereka meninggal dunia, gila atau cacat fisik.  Majalah-majalah yang beredar di sana menyebutkan nama penyakit baru ini  dengan sebutan <em>Battered Baby Syn</em> (penyakit anak akibat  dipukul). <em>Majalah Hexagon</em> dalam volume No. 5 tahun 1978  menyebutkan bahwa banyak sekali rumah – rumah sakit di Eropa dan Amerika  yang menampung anak-anak kecil yang dipukul secara keras oleh ibu-ibu  mereka atau terkadang oleh bapak-bapak mereka.</li>
<li>DR. Ahmad Al-Barr mengatakan, “Pada tahun 1967, lebih dari 6500 anak  kecil yang dirawat di beberapa rumah sakit di Inggris, dan sekitar 20%  dari mereka berakhir dengan meninggal, sedangkan sisanya mengalami cacat  fisik dan mental secara akut. Ada lagi, sekitar ratusan orang yang  mengalami kebutaan dan lainnya ketulian setiap tahunnya, ada yang  mengalami cacat fisik, idiot dan lumpuh akibat pukulan keras.”</li>
<li>Para wanita karir yang menjadi ibu rumah tangga tidak dapat  memberikan pelayanan secara berkesinambungan terhadap anak-anak mereka  yang masih kecil, karena hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk karir  mereka. Sehingga anak-anak mereka hanya mendapatkan jatah sisa waktu  dalam keadaan cape dan loyo.</li>
<li>Berkurangnya angka kelahiran, sehingga pemerintah negara tersebut  saat ini menggalakkan kampanye memperbanyak anak dan memberikan  penghargaan bagi keluarga yang memiliki banyak anak. Hal ini tentunya  bertolak belakang dengan kondisi yang ada di dunia Islam saat ini.</li>
</ol>
<p><strong>Saksi</strong>:<strong> Mereka Berbicara</strong></p>
<ul>
<li>Seorang Filosof bidang ekonomi, Joel Simon berkata, “Mereka (para  wanita) telah direkrut oleh pemerintah untuk bekerja di pabrik-pabrik  dan mendapatkan sejumlah uang sebagai imbalannya, akan tetapi hal itu  harus mereka bayar mahal, yaitu dengan rontoknya sendi-sendi rumah  tangga mereka.”</li>
<li>Sebuah lembaga pengkajian strategis di Amerika telah mengadakan  ‘polling’ seputar pendapat para wanita karir tentang karir seorang  wanita. Dari hasil ‘polling’ tersebut didapat kesimpulan: “Bahwa  sesungguhnya wanita saat ini sangat keletihan dan 65% dari mereka lebih  mengutamakan untuk kembali ke rumah mereka.”</li>
</ul>
<p><strong>Karir Wanita dalam Perspektif Islam</strong></p>
<p>Allah Ta’ala menciptakan laki-laki dan wanita dengan karakteristik  yang berbeda. Secara alami (sunnatullah), laki-laki memiliki otot-otot  yang kekar, kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang berat, pantang  menyerah, sabar dan lain-lain. Cocok dengan pekerjaan yang melelahkan  dan sesuai dengan tugasnya yaitu menghidupi keluarga secara layak.</p>
<p>Sedangkan bentuk kesulitan yang dialami wanita yaitu: Mengandung,  melahirkan, menyusui, mengasuh mendidik anak, serta menstruasi yang  mengakibatkan kondisinya labil, selera makan berkurang, pusing-pusing,  rasa sakit di perut serta melemahnya daya pikir, sebagaimana disebutkan  di dalam Al-Qur’an:</p>
<p>وَوَصَّينَا الإِنسٰنَ  بِوٰلِدَيهِ حَمَلَتهُ أُمُّهُ وَهنًا عَلىٰ وَهنٍ وَفِصٰلُهُ فى عامَينِ  أَنِ اشكُر لى وَلِوٰلِدَيكَ إِلَىَّ المَصيرُ – سورة لقمان</p>
<p><em>“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua  orang, Ibu Bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang  bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.”</em> (Qs. Luqman:  14)</p>
<p>Ketika dia melahirkan bayinya, dia harus beristirahat, menunggu  hingga 40 hari atau 60 hari dalam kondisi sakit dan merasakan keluhan  yang demikian banyak. Ditambah lagi masa menyusui dan mengasuh yang  menghabiskan waktu selama dua tahun. Selama masa tersebut, si bayi  menikmati makanan dan gizi yang dimakan oleh sang ibu, sehingga  mengurangi staminanya.</p>
<p>Oleh karena itu, Dienul Islam menghendaki agar wanita melakukan  pekerjaan/karir yang tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaannya dan  tidak mengungkung haknya di dalam bekerja, kecuali pada aspek-aspek yang  dapat menjaga kehormatan dirinya, kemuliaannya dan ketenangannya serta  menjaganya dari pelecehan dan pencampakan.</p>
<p>Dienul Islam telah menjamin kehidupan yang bahagia dan damai bagi  wanita dan tidak membuatnya perlu untuk bekerja di luar rumah dalam  kondisi normal. Islam membebankan ke atas pundak laki-laki untuk bekerja  dengan giat dan bersusah payah demi menghidupi keluarganya.</p>
<p>Maka, selagi si wanita tidak atau belum bersuami dan tidak di dalam  masa menunggu (‘iddah) karena diceraikan oleh suami atau ditinggal mati,  maka nafkahnya dibebankan ke atas pundak orangtuanya atau anak-anaknya  yang lain, berdasarkan perincian yang disebutkan oleh para ulama fiqih  kita.</p>
<p>Bila si wanita ini menikah, maka sang suamilah yang mengambil alih  beban dan tanggung jawab terhadap semua urusannya. Dan bila dia  diceraikan, maka selama masa ‘iddah (menunggu) sang suami masih  berkewajiban memberikan nafkah, membayar mahar yang tertunda, memberikan  nafkah anak-anaknya serta membayar biaya pengasuhan dan penyusuan  mereka, sedangkan si wanita tadi tidak sedikit pun dituntut dari hal  tersebut.</p>
<p>Bila si wanita tidak memiliki orang yang bertanggung jawab terhadap  kebutuhannya, maka negara Islam yang berkewajiban atas nafkahnya dari  Baitul Mal kaum Muslimin.</p>
<p><strong>Solusi Islam Terhadap Fenomena Karir Wanita</strong></p>
<p>Ada kondisi yang teramat mendesak yang menyebabkan seorang wanita  terpaksa diperbolehkan bekerja ke luar rumah, namun tetap dengan  persyaratan sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Disetujui oleh kedua orangtuanya atau wakilnya atau suaminya, sebab  persetujuannya adalah wajib secara agama dan qadla’ (hukum).</li>
<li>Pekerjaan tersebut terhindar dari ikhtilath (berbaur dengan bukan  mahram), khalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan laki-laki asing.  Sebab ada dampak negatif yang besar jika hal tersebut sampai terjadi,.  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:Artinya:  <em>“Tidaklah seorang lak-laki bersepi-sepian dengan seorang wanita  (yang bukan mahramnya) kecuali setan mejadi yang ketiganya</em>.”‌  (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam <em>Al-Fitan</em> 2165, Ahmad 115)<em></em><em>“Tidaklah  seorang laki-laki berkhalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan  seorang wanita, kecuali bila bersama laki-laki (yang merupakan)  mahramnya.” </em>(HR. Bukhari)</li>
</ul>
<ul>
<li>Menutupi seluruh tubuhnya di hadapan  laki-laki asing dan menjauhi  semua hal yang memicu timbulnya fitnah, baik di dalam berpakaian,  berhias atau pun berwangi-wangian (menggunakan parfum).</li>
<li>Komitmen dengan akhlaq Islami dan hendaknya menampakkan keseriusan  dan sungguh-sungguh di dalam berbicara, alias tidak dibuat-buat dan  sengaja melunak-lunakkan suara.Firman Allah:<em> “Maka janganlah  sekali-kali kalian melunak-lunakan ucapan sehingga membuat condong orang  yang di dalam hatinya terdapat penyakit dan berkata-katalah dengan  perkataan yang ma’ruf/baik.”</em> (Qs. Al-Ahzab:32)</li>
<li>Hendaknya pekerjaan tersebut sesuai dengan tabi’at dan kodratnya  seperti dalam bidang pengajaran, kebidanan, menjahit dan lain-lain.</li>
</ul>
<p><strong>Beberapa fatwa ulama berkenaan dengan masalah ini.</strong></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:</p>
<p>Apa lahan pekerjaan yang diperbolehkan bagi perempuan muslimah yang  mana ia bisa bekerja di dalamnya tanpa bertentangan dengan ajaran-ajaran  agamanya?</p>
<p><strong>Jawaban</strong>:</p>
<p>Lahan pekerjaan seorang wanita adalah pekerjaan yang dikhususkan  untuknya seperti pekerjaan mengajar anak-anak perempuan baik secara  administratif ataupun secara pribadi, pekerjaan menjahit pakaian wanita  di rumahnya dan sebagainya. Adapun pekerjaan dalam lahan yang  dikhususkan untuk orang laki-laki maka tidaklah diperbolehkan baginya.  Karena bekerja pada lahan tersebut akan mengundang ikhtilath sedangkan  hal tersebut adalah fitnah yang besar yang harus dihindari.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa Nabi <em>shallallahu alaihi wa sallam</em> telah bersabda:</p>
<p>Artinya: <em>“Saya tidak meninggalkan fitnah (godaan) yang lebih  berbahaya bagi seorang laki-laki daripada fitnah perempuan‌.”</em></p>
<p>Maka seorang laki-laki harus menjauhkan keluarganya dari  tempat-tempat fitnah dan sebab-sebabnya dalam segala kondisi.</p>
<p>(<em>Fatawa Mar’ah</em>, 1/103)</p>
<p><strong>Pertanyaan</strong>:</p>
<p>Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya: Apa hukum wanita  yang bekerja? Dan lapangan pekerjaan apa saja yang diperbolehkan bagi  seorang wanita untuk bekerja di dalamnya?</p>
<p><strong>Jawaban</strong>:</p>
<p>Tidak seorang pun yang berselisih bahwa wanita berhak bekerja, akan  tetapi pembicaraan hanya berkisar tentang lapangan pekerjaan apa yang  layak bagi seorang wanita, dan penjelasannya sebagai berikut:</p>
<p>Ia berhak mengerjakan apa saja yang biasa dikerjakan oleh seorang  wanita biasa lainnya dirumah suaminya dan keluarganya seperti memasak,  membuat adonan kue, membuat roti, menyapu, mencuci pakaian, dan  bermacam-macam pelayanan lainnya serta pekerjaan bersama yang sesuai  dengannya dalam rumah tangga.</p>
<p>Ia juga berhak mengajar, berjual beli, menenun kain, membuat batik,  memintal, menjahit dan semisalnya apabila tidak mendorong pada  perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh syara  seperti berduaan dengan  selain mahram atau bercampur dengan laki-laki lain, yang mengakibatkan  fitnah atau menyebabkan ia meninggalkan hal-hal yang harus dilakukannya  terhadap keluarganya, atau menyebabkan ia tidak mematuhi perintah orang  yang harus dipatuhinya dan tanpa ridha mereka.</p>
<p>(<em>Majalatul Buhuts Al-Islamiyah </em>19/160)</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Sudah waktunya kita memahami betapa agungnya dien Islam di dalam  setiap produk hukumnya, berpegang teguh dengannya, menjadikannya sebagai  hukum yang berlaku terhadap semua aturan di dalam kehidupan kita serta  berkeyakinan secara penuh, bahwa ia akan selalu cocok dan sesuai di  dalam setiap masa dan tempat.</p>
<p><strong>Ustadz Yusuf Iskandar</strong></p>
<p>Sumber:</p>
<ol>
<li><em>Amal al-Mar’ah Baina Al-Islam wa Al-Gharb</em>” tulisan Ibrahim  an-Ni’mah – Abu Hafshoh)</li>
<li><em>Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah</em>, edisi Indonesia  <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan,  Penerbit Darul Haq</li>
</ol>
<p>Disalin dari: <a href="http://www.hang106.or.id/">http://www.hang106.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/generasianaksholeh.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/generasianaksholeh.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/generasianaksholeh.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/generasianaksholeh.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/generasianaksholeh.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/generasianaksholeh.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/generasianaksholeh.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/generasianaksholeh.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/generasianaksholeh.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/generasianaksholeh.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/generasianaksholeh.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/generasianaksholeh.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/generasianaksholeh.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/generasianaksholeh.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=generasianaksholeh.wordpress.com&amp;blog=12138555&amp;post=88&amp;subd=generasianaksholeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/03/26/goresan-nasehat-untuk-wanita-karir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fajarilahibatam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://generasianaksholeh.files.wordpress.com/2010/03/karir.gif" medium="image">
			<media:title type="html">karir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HAK ANAK YANG HARUS DITUNAIKAN</title>
		<link>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/03/26/hak-anak-yang-harus-ditunaikan/</link>
		<comments>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/03/26/hak-anak-yang-harus-ditunaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 07:15:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fajarilahibatam</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Hak anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://generasianaksholeh.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[hak anak<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=generasianaksholeh.wordpress.com&amp;blog=12138555&amp;post=77&amp;subd=generasianaksholeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color:#0e4d19;"><img class="alignright size-full wp-image-80" title="arabpuzz" src="http://generasianaksholeh.files.wordpress.com/2010/03/arabpuzz.jpg?w=600" alt=""   />HAK ANAK YANG HARUS DITUNAIKAN</span></h2>
<p><strong> </strong></p>
<p>MEMILIHKAN IBU YANG SHOLIHAH</p>
<p>Umar bin Khotob berkata:&#8221;Hak anak atas orang tuanya adalah meilihkan ibu yang sholihah, mengajarkan Al Qur&#8217;an dan memilihkan nama yang baik&#8221;.(Kaifa Turobbi waladan sholihan oleh Al Maghribi).</p>
<p>Kita perlu mengerti bertanya mengapa Umar menyebutkan hak anak yang pertama kali adalah memilihkan ibu yang sholihah? Apa rahasia dibalik pemenuhan hak ini? Bagaimana memilihkan ibu untuk buah hati kita?</p>
<p>Dari perkataan Umar bin Khotob itu menunjukkan betapa dalam kandungan pemikirannya. Karena kebaikan anak sangat bergantung dari kebaikan ibunya. Ibunya baik maka anaknya akan baik. Karena ibu yang baik akan memberikan perhatian yang serius bagi pendidikan anak-anaknya. Bahkan dia akan mengajar dan mendidik anaknya dengan kebiasaan yang baik.</p>
<p>Ibu yang baik, akan menjadi guru bagi anak-anaknya. Ibu merupakan sekolah bagi anak-anaknya. Anak akan menyerap semua dari kebiasaan ibunya. Anak bukan sekedar menyusu asinya, tapi juga menyusu akhlak dan kepribadian ibunya. Maka penyair arab mengatakan:</p>
<p>Ibu adalah sekolah</p>
<p>Jika engkau menyiapkannya</p>
<p>Maka engkau telah menyiapkan generasi yang baik dan tangguh</p>
<p>Ibu adalah penentu dan pengukir kepribadian  anak-anaknya. Kalau dia mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya, maka dia telah mengukir kebaikan kepada anak-anaknya. Begitu juga sebaliknya. Maka sebagian para ulama&#8217; mengatakan mendidik itu seperti menanam benih. Orang yang akan menanam tentu akan memilih lahan yang gembur agar tanamannya subur, tumbuh dengan lebat dan berbuah dengan memuaskan. Demikian juga mendidik anak, maka kita disuruh untuk memilihkan ibu yang cerdik dan pandai lagi sholihah.</p>
<p>Maka rosululloh bersabda;&#8221;Pilihlah tempat mani kalian&#8221; (HR.Ibnu Majah, Ash Shohihah no.1067).</p>
<p>Maksudnya pilihlah istri tempat kalian menanam benih (anak-anak) kalian. Menikah bukanlah hanya sekedar untuk melampiaskan syahwat saja, namun untuk kebaikan keluarga dan anak-anak. Menikah bukan hanya untuk kepentingan pribadi saja tapi untuk kepentingan keluarga dan anak-anak.</p>
<p>Maka Rosululloh mengingatkan agar kita hati-hati dari memilih wanita yang cantik tapi tidak sholihah. Beliau bersabda,&#8221;hati-hati kalian dari menikahi hadhroud diman&#8221;. Shahabat bertanya, &#8220;apa itu ya Rosululloh?&#8221;  Beliau menjawab,&#8221;Wanita cantik yang tumbuh dari lingkungan yang buruk&#8221;. (HR.Al Qodhoi, Didhoifkan Al Bani  dalam Adh dhoifah1/24).</p>
<p>Wanita seperti ini akan menjadi bumerang atau buah simalakama bagi yang menikahinya. Mau dicerai sayang, tak dicerai makan hati tiap hari. Tak bisa mendidik anak, tak ada hormat kepada suami, suka mengeluh dan mengeluh, tapi kecantikannya memikat hati. Maka tersiksalah orang yang memilihnya sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya.</p>
<p><span id="more-77"></span></p>
<p>Lantas wanita yang bagaimana yang terbaik untuk kita dan anak-anak kita?</p>
<p>Rosululloh bersabda,&#8221;Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur&#8221;. (HR. Abu Daud, Nasai dan Hakim)</p>
<p>Pesan nabi kepada kita ini patut kita renungkan. Wanita yang terbaik untuk anak kita adalah yang penyayang, lembut tutur katanya, santun dalam bertindak, hormat dan menyayangi suaminya. Tidak cukup itu, tapi juga yang subur. Maksudnya dia mampu melahirkan anak yang banyak.</p>
<p>Tidak diragukan lagi, wanita yang banyak anak dan sabar di dalam mendidik anak-anaknya karena kasih sayangnya kepada mereka maka inilah wanita yang terbaik. Inilah wanita unggul yang harus kita cari. Inilah wanita yang akan melahirkan para pemimpin umat. Anda mau? Carilah dengan jujur, maka Allah akan memberikannya kepadamu. Oleh Yusuf Ibnu Rosyidi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>MEMILIHKAN NAMA YANG BAIK</p>
<p>Umar bin Khotob berkata:&#8221;Hak anak atas orang tuanya adalah memilihkan ibu yang sholihah, mengajarkan Al Qur&#8217;an dan memilihkan nama yang baik&#8221;.</p>
<p>Nama yang baik adalah hak anak yang harus dipenuhi oleh para orang tua. Dia akan bangga dengan namanya yang baik, dan sebaliknya dia akan malu jika diberi nama yang jelek. Bahkan tidak bisa dibayangkan jika dikemudian hari anak kita menjadi pemimpin tetapi memiliki nama asal-asalan. Yang malu bukan hanya dia, tapi rakyat yang dipimpinnya ikut menanggung malu.</p>
<p>Nama bukan hanya sekedar tanda untuk membedakan dengan yang lain. Jangan pedulikan orang yang mengatakan apalah arti sebuah nama.  Kalaulah nama itu tidak berarti dan hanya sekedar untuk membedakan deangan yang lain, kenapa dia tidak mau diberi nama &#8220;asal-asalan&#8221;? siapakah yang mau diberi nama &#8220;Si Bodoh atau Si Bego&#8221;? Bukankah nama itu cukup untuk membedakan dengan yang lain, dan cukup sebagai tanda?</p>
<p>Nama yang baik adalah hak anak. Oleh karena itu Islam mengatur bagaimana menunaikan hak anak ini. Rosululloh mengatakan &#8220;Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat nanti dengan nama kalian dan nama bapak kalian, maka perbaikilah nama kalian&#8221; (HR. Abu Daud)</p>
<p>Di hadits yang lain Rosululloh juga bersabda,&#8221;Nama yang paling dicintai oleh Allah adalah nama Abdulloh dan Abdurrahman&#8221; (HR. Muslim). Maka begitu mendengar nabi bersabda seperti itu para shahabat banyak yang memberi nama anaknya dengan nama Abdullah dan Abdurrahman. Yang membedakan hanya nama bapaknya saja.</p>
<p>Nabi juga menganjurkan agar kita memberikan nama untuk buah hati kita dengan nama para nabi atau nama orang-orang sholih atau memiliki arti yang baik. Karena harapan orang tua terangkum dalam nama anaknya. Rosululloh memberi nama salah satu anaknya dengan nama Ibrohim.  Ibrohim merupakan salah satu Rosul Ulil Azmi. Beliau memilihkan nama untuk cucunya dengan nama Hasan dan Husein, keduanya artinya baik.</p>
<p>Sekali lagi nama merupakan gambaran harapan orang tua terhadap anaknya.  Ketika orang tua memberi nama anaknya Ronaldo, maka ketika memilihkan nama itu orang tuanya berharap anaknya pandai main bola. Haram hukumnya memilihkan nama anak kita  dengan nama pemain film dan selebrity yang fasik  dan tidak memiliki rasa malu. Kalau kita sama-sama berharap kenapa kita berharap anak kita memiliki kesholihan seperti Imam Muhammad Idris Asy Syafi&#8217;ie, atau Imam Ahmad atau Imam Malik atau Hasan Al Bashri dan lain-lain?</p>
<p>Tapi ada yang lebih memprihatinkan lagi, pemberian nama itu hanya sekedar mengetahui tanda lahirnya saja. Nama Agus, Yuli, Yulia, dst hanya untuk sekedar menandai waktu lahirnya saja. Di Jawa ada yang memberi nama anaknya &#8220;Parji&#8221; maksudnya dia lahir bulan Sapar tanggal siji (satu). Padahal dalam bahasa Arab &#8220;Parji&#8221; artinya kemaluan. Alangkah malunya dia kalau tahu artinya…</p>
<p>Nabi pernah merubah nama yang memiliki arti yang buruk dengan nama yang memiliki arti yang baik. Bahkan merupakan keharusan merubah nama yang buruk, karena khawatir dia akan memiliki sifat seperti yang terkandung dalam namanya.</p>
<p>Diantara pemberian nama yang dicontohkan nabi adalah nama kunyah. Nama kunyah artinya nama yang disandarkan kepada anaknya. Seperti Abu Sufyan, Ummu Sufyan artinya bapaknya Sufyan, ibunya Sufyan. Nabi pernah memberi nama untuk anak kecil yang menangis karena kematian burung kecilnya, dengan nama Abu Umeir. Nama kunyah ini tidak harus memiliki anak lebih dulu. Ali bin Abi Tholib juga memberi nama salah satu anak perempuannya dengan nama Ummu Kultsum.  Oleh Yusuf Ibnu Rosyidi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Mengajarkan Al Qur&#8217;an </strong></p>
<p>Al Qur&#8217;an adalah sumber kebaikan, sumber hukum yang datang dari Allah untuk mengatur manusia. Dia merupakan buku petunjuk untuk merawat manusia agar hidup bahagia dan sejahtera di dunia dan akherat. Orang yang mau mempelajarinya dan mengajarkannya menjadi orang sebaik-baik manusia. Sebagaimana sabda Rosululloh :</p>
<p>&#8220;SEBAIK-BAIK KALIAN ADALAH YANG BELAJAR AL QUR&#8217;AN DAN MENGAJARKANNYA&#8221; (HR. BUKHORI).</p>
<p>Bertolak dari hadits yang mulia ini, maka para shahabat sangat bersemangat dalam membimbing anak-anak mereka agar senantiasa mempelajari, menghafal dan mengamalkan Al Qur&#8217;an. Mereka menginginkan anak-anak mereka menjadi  yang terbaik.</p>
<p>KEUTAMAAN MENGAJARKAN AL QUR&#8217;AN</p>
<p>&#8220;Rosululloh bersabda,&#8221;Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan maka baginya pahala mengajar dan pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun&#8221; (HR,Muslim)</p>
<p>Subhanallah, kalaulah orang tua mengajarkan Al Qur&#8217;an kepada anaknya maka dia mendapat pahala mengajar dan pahala bacaan anaknya tanpa mengurangi pahala bacaan anaknya, sekalipun dia sudah terkubur. Kalau anaknya mengajarkan kepada cucunya maka dia akan mendapatkan pahala bacaan anak dan cucunya tanpa mengurangi pahala bacaan mereka.</p>
<p>Tahukah kalian wahai orang tua yang sholih, berapa pahala orang yang membaca Al Qur&#8217;an?  Di dalam hadits yang shohih disebutkan, setiap hurufnya diberi pahala sepuluh. Bayangkan bacaan, bismillahirrohmanirrohim(arabnya)</p>
<p>Saja sudah 19 huruf, pahala yang didapatkan bagi yang membaca dengan ikhlas 190pahala. Subhanallah…alangkah beruntungnya orang tua yang mau meluangkan waktunya untuk mengajarkan Al Qur&#8217;an kepada anaknya. Bagai mana dengan orang tua yang tidak mampu mengajar Al Qur&#8217;an?</p>
<p>Wahai orang tua yang memiliki kepedulian dalam mendidik anak, maukah kalian ketika hari kiamat diberikan perhiasan yang belum pernah ada di dunia? Atau engkau akan dipakaikan mahkota kepada buah hatimu? Ajarkanlah Al Qur&#8217;an kepada anakmu, engkau akan mendapatkan itu semua.</p>
<p>Al Hakim meriwayatkan dalam mustdraknya dari hadits Buraidah, dia berkata &#8220;Rosulullah bersabda &#8220;Barangsiapa membaca Al Qur&#8217;an dan mempelajarinya serta mengamalkannya maka pada hari kiamat nanti Allah akan memakaikan kedua orang tuanya mahkota  yang cahaya seperti cahaya matahari. Dan Allah juga akan memakaikan perhiasan yang belum pernah ada di dunia. Lantas kedua orang tuanya bertanya&#8221;sebab apakah kami mendapatkan ini semua?&#8221; Maka dijawab&#8221; karena kamu telah mengajarkan Al Qur&#8217;an kepada anakmu&#8221;.</p>
<p>Kalian akan bangga kepada anakmu, ketika kaliam melihat mereka masuk surga di tempat yang tertinggi. Maukah kalian aku tunjukkan jalannya? Ajarkan Al Qur&#8217;an kepada mereka, karena Rosululloh bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari Abdullah bin Amr dengan sanad hasan, bahwa Rosululloh bersabda,&#8221;Dikatakan kepada Ahlul Qur&#8217;an, bacalah dan naiklah. Bacalah dengan tartil seperti dulu kamu membacanya dengan tartil di dunia. Karena kedudukanmu di surga ini berada pada ayat terakhir yang kamu baca&#8221; (Abu Dawud 2/153).</p>
<p>CERMIN PARA SALAF</p>
<p>Ikrimah berkata,&#8221;Engkau melihat Ibnu Abbas pernah mengikat kakiku agar menghafal Al Qur&#8217;an&#8221;</p>
<p>Lihatlah kesungguhan Abdullah bin Abbas, hingga mengikat Ikrimah dengan harapan agar menghafal Al Qur&#8217;an. Mereka sangat antosias dan rakus terhadap keutamaan dan pahala untuk diri dan keluarganya. Kita bagaimana?</p>
<p>ANAK-ANAK PENGHAFAL AL QUR&#8217;AN</p>
<p>Bukhori meriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata,&#8221;Rosululloh wafat sedangkan umurku 10 tahun  dan aku telah menghafal Al Qur&#8217;an&#8221;</p>
<p>Imam Syafi&#8217;i mengatakan,&#8221;Aku telah menghafal Al Qur&#8217;an ketika aku umur tujuh tahun dan aku telah menghafal kitab Al Muwatta&#8217;(kitab hadits karya Imam Malik) ketika aku umur sepuluh tahun&#8221;</p>
<p>Sahl bin Abdullah At Tusturi berkata,&#8221;Aku pulang pergi ke madrasah belajar Al Qur&#8217;an dan aku berhasil menghafalnya ketika aku berumur enam atau tujuh tahun&#8221;</p>
<p>Ibnu Sina ketika berumur sepuluh tahuntelah menghafal Al Qur&#8217;an&#8221;</p>
<p>KAPAN ANAK MULAI DIAJARKAN AL QUR&#8217;AN?</p>
<p>Abu &#8216;Ashim berkata,:Aku pergi membawa putraku  ke rumah Ibnu Juraij, ketika itu usianya kurang lebih 3 tahun agar dia bisa belajar Al Qur&#8217;an dan hadits&#8221;. Abu &#8216;Ashim mengatakan,&#8221;Adalah tidak mengapa ketika anak mau belajar Al Qur&#8217;an dan hadits dalam usia seperti itu&#8221;. Ditulis oleh Yusuf Ibnu Rosyidi</p>
<br /> Tagged: <a href='http://generasianaksholeh.wordpress.com/tag/hak-anak/'>Hak anak</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/generasianaksholeh.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/generasianaksholeh.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/generasianaksholeh.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/generasianaksholeh.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/generasianaksholeh.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/generasianaksholeh.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/generasianaksholeh.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/generasianaksholeh.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/generasianaksholeh.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/generasianaksholeh.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/generasianaksholeh.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/generasianaksholeh.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/generasianaksholeh.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/generasianaksholeh.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=generasianaksholeh.wordpress.com&amp;blog=12138555&amp;post=77&amp;subd=generasianaksholeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/03/26/hak-anak-yang-harus-ditunaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fajarilahibatam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://generasianaksholeh.files.wordpress.com/2010/03/arabpuzz.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">arabpuzz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SI SUKSES DAN SI GAGAL</title>
		<link>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/03/15/si-sukses-dan-si-gagal/</link>
		<comments>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/03/15/si-sukses-dan-si-gagal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 08:06:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fajarilahibatam</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[Si Sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/03/15/si-sukses-dan-si-gagal/</guid>
		<description><![CDATA[SI SUKSES DAN SI GAGAL Sukses itu adalah mereka yang berfikir dalam memecahkan masalah, Gagal itu adalah yang berfikir dalam masalah Sukses itu tak kehabisan ide, Gagal itu tak pernah habis udzurnya Sukses itu melihat jalan keluar dalam masalah Gagal itu melihat masalah dalam jalan keluar Sukses itu berkata, jalan keluar itu sulit tapi mungkin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=generasianaksholeh.wordpress.com&amp;blog=12138555&amp;post=52&amp;subd=generasianaksholeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="rtl"><img class="size-medium wp-image-57 alignright" title="piala2" src="http://generasianaksholeh.files.wordpress.com/2010/03/piala2.png?w=300&#038;h=160" alt="" width="300" height="160" />SI SUKSES DAN SI GAGAL</p>
<p dir="rtl">Sukses itu adalah mereka yang berfikir dalam memecahkan masalah, Gagal itu adalah yang berfikir dalam masalah</p>
<p dir="rtl">
<p dir="rtl">Sukses itu tak kehabisan ide,</p>
<p dir="rtl">Gagal itu tak pernah habis udzurnya</p>
<p dir="rtl">
<p dir="rtl">Sukses itu melihat jalan keluar dalam masalah</p>
<p dir="rtl">Gagal itu melihat masalah dalam jalan keluar</p>
<p dir="rtl">
<p dir="rtl">Sukses itu berkata, jalan keluar itu sulit tapi mungkin dilakukan</p>
<p dir="rtl">Gagal itu berkata, jalan keluar itu mungkin tapi sulit</p>
<p dir="rtl">
<p dir="rtl">Sukses itu memiliki cita-cita yang akan diwujudkan</p>
<p dir="rtl">Gagal itu memilikli angan-angan dan mimpi yang mengacaukan</p>
<p dir="rtl">
<p dir="rtl">Sukses itu berkata, bergaullah dg manusia dg pergaulan yang kamu suka diperlakukan</p>
<p dir="rtl">Gagal itu berkata,tipulah manusia sebelum manusia menipumu</p>
<p dir="rtl">
<p dir="rtl">Sukses itu melihat adanya cita-cita dalam pekerjaannya</p>
<p dir="rtl">Gagal itu melihat kesusahan dalam pekerjaannya</p>
<p dir="rtl">
<p dir="rtl">Sukses itu melihat masa yang akan datang dan merencanakan langkah-langkahnya untuk mewujudkannya</p>
<p dir="rtl">Gagal itu melihat masa lalu dan tenggelam dengannya</p>
<p dir="rtl">
<p dir="rtl">Sukses itu memilih apa yang dia katakana</p>
<p dir="rtl">Gagal itu mengatakan apa yang dia pilih</p>
<p dir="rtl">
<p dir="rtl">Sukses itu berdebat dengan kemampuan dan bahasa yang lembut</p>
<p dir="rtl">Gagal itu berdebat dengan kelemahan dan bahasa yang kasar</p>
<p dir="rtl">
<p dir="rtl">Sukses itu membuat peristiwa</p>
<p dir="rtl">Gagal itu dibentuk peristiwa</p>
<p dir="rtl">
<p dir="rtl">
<p dir="rtl">Disadur dr.majalh Qiblati vol.02/no.01/10-2006/09-1427 oleh Imam Zuhair, Pembina Tahfidz di Makkah Al Mukarramah.</p>
<p dir="rtl">Oleh Yusuf Iskandar</p>
<p dir="rtl">
<p dir="rtl">
<br /> Tagged: <a href='http://generasianaksholeh.wordpress.com/tag/si-sukses/'>Si Sukses</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/generasianaksholeh.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/generasianaksholeh.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/generasianaksholeh.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/generasianaksholeh.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/generasianaksholeh.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/generasianaksholeh.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/generasianaksholeh.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/generasianaksholeh.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/generasianaksholeh.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/generasianaksholeh.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/generasianaksholeh.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/generasianaksholeh.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/generasianaksholeh.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/generasianaksholeh.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=generasianaksholeh.wordpress.com&amp;blog=12138555&amp;post=52&amp;subd=generasianaksholeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/03/15/si-sukses-dan-si-gagal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fajarilahibatam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://generasianaksholeh.files.wordpress.com/2010/03/piala2.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">piala2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KITA HIDUP UNTUK PERKARA BESAR</title>
		<link>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/02/22/kita-hidup-untuk-perkara-besar/</link>
		<comments>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/02/22/kita-hidup-untuk-perkara-besar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 10:26:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fajarilahibatam</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Perkara besar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://generasianaksholeh.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Sering  kita mendapatkan seseorang memasang tenda biru, dengan kursi yang tersusun rapi serta dekorasi yang rapi nan apik. Ditambah lagi sound system yang sudah terpasang, tentu kita sudah bisa menangkap akan ada hajatan. Entah itu pernikahan atau hajatan yang lainnya. Intinya semuanya tersedia dengan rapi dan indah pasti ada tujuan  jelas. Demikian juga, keberadaan langit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=generasianaksholeh.wordpress.com&amp;blog=12138555&amp;post=24&amp;subd=generasianaksholeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Sering  kita mendapatkan seseorang memasang tenda biru, dengan kursi yang tersusun rapi serta dekorasi yang rapi nan apik. Ditambah lagi sound system yang sudah terpasang, tentu kita sudah bisa menangkap akan ada hajatan. Entah itu pernikahan atau hajatan yang lainnya. Intinya semuanya tersedia dengan rapi dan indah pasti ada tujuan  jelas.</p>
<p>Demikian juga, keberadaan langit dan bumi, matahari dan bulan, gunung dan lautan, siang dan malam serta penghuninya yang terdiri dari hewan dan tumbuhan serta manusia. Tentu semua ini sudah ada yang merancang sebelumnya. Dan tentu sudah ada kejelasan tujuan. Namun apakah kita sudah tahu apa tujuan diciptakan semua ini?</p>
<p>Ada manusia yang sangat peduli untuk memikirkan fenomena alam, mereka meneliti, memikirkan kerapian dan kerumitan serta keindahannya. Mereka pun berkesimpulan semua ini pasti sudah ada yang merancangnya. Dia mengagumi pencipta sekaligus perancangnya. Dia berusaha mengenalnya dengan segala keterbatasan akal dan pikirannya. Dia senantiasa gelisah, resah hingga dia mendapatkan jawaban semua yang mengusik pikirannya.</p>
<p>Mereka mengandalkan kejeniusan pikirannya dalam mencari perancang dan pencipta alam ini, namun hanya kenihilan dan ketidakpastian yang mereka dapatkan. Mereka hanya menyimpulkan penciptanya tidak lain adalah yang memiliki kesempurnaan, dan memiliki kekuasaan yang tak terbatas. Tapi siapakah dia? Untuk apakah semua ini diciptakan? Bagaimana dia menciptakan semua ini? Dan kapan dia menciptakan ini semua?</p>
<p>Demi Allah mereka tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan dari  seluruh pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya, kecuali jawaban dari wahyu ilahi</p>
<p>Sesungguhnya di dalam seluruh kitab suci yang di bawa oleh para nabi dan para rosul telah menjawab semua pertanyaan yang mengusik para pemikir yang sedang  kebingungan ini.<span id="more-24"></span></p>
<p>Bahkan Allah telah mengumumkan kepada seluruh manusia, bahwa Allah yang telah menciptakannya.  Adakah  yang berani mengatakan kepada dunia, bahwa dia sebagai pencipta alam semesta. Pernahkah kita mendengarnya selain dari  Allah?</p>
<p>Inilah dia pernyataan Allah kepada dunia bahwa Dialah yang telah menciptakan semua ini. Di dalam kitab suci yang di bawa oleh Rosul yang terakhir dia mengatakan&#8217;&#8221; Allah Pencipta segala sesuatu&#8221;</p>
<p>Perhatikanlah dialog rosululloh dengan kaumnya. Allah membimbing rosululloh untuk bertanya kepada kaumnya sebagai berikut:</p>
<p>Katakanlah: &#8220;Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?&#8221; Mereka akan menjawab: &#8220;Kepunyaan Allah.&#8221; Katakanlah: &#8220;Maka Apakah kamu tidak ingat?&#8221;Katakanlah: &#8220;Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya &#8216;Arsy yang besar?&#8221; Mereka akan menjawab: &#8220;Kepunyaan Allah.&#8221; Katakanlah: &#8220;Maka Apakah kamu tidak bertakwa?&#8221;Katakanlah: &#8220;Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?&#8221; Mereka akan menjawab: &#8220;Kepunyaan Allah.&#8221; Katakanlah: &#8220;(Kalau demikian), Maka dari jalan manakah kamu ditipu?&#8221;(Al Mukminun ayat 84-89).</p>
<p>Bahkan, Dia bertanya kepada yang tidak percaya kepadaNya dan mengingkari adanya pencipta dari semua ini. &#8220;Apakah mereka diciptakan tanpa pencipta? Atau diri mereka sendiri yang menciptakan mereka?&#8221; (Ath Thur ayat 35).</p>
<p>Kedua pertanyaan ini, adalah pertanyaan dengan maksud untuk mengingkari kesombongan dan kecongkakan mereka terhadap Allah yang telah menciptakan semua ini. Kedua pertanyaan ini tentu tidak memerlukan jawaban. Karena keduanya jelas tidak mungkin. Tidak mungkin dia ada tanpa ada yang mengadakan. Dan tidak mungkin mereka mengadakan diri mereka sendiri.</p>
<p>Adanya sesuatu pasti ada yang mengadakan. Adanya kursi pasti ada pembuat kursi. Tidak mungkin kursi ada dengan sendirinya. Atau kursi sendiri yang membuat kursi. Jadi yakini dan imani bahwa pencipta seluruh alam semesta ini adalah Allah.<strong> </strong></p>
<p><strong>UNTUK APA SEMUA INI DICIPTAKAN?</strong></p>
<p>Kalau saudara sudah memahami uraian di  atas, pertanyaan berikutnya adalah untuk apa Allah menciptakan semua ini?</p>
<p>Allah Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui, dengan sifatNya itu mustahil akan melakukan sesuatu tanpa tujuan dan hikmah yang jelas.      Allah telah menegaskan tujuan penciptaan ini, bukan untuk main-main, bukan tanpa tujuan. Tapi dengan tujuan yang jelas.</p>
<p><em>”Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.”</em> (Ad Dukhan: 38)</p>
<p>Semua ini diciptakan untuk manusia, untuk memenuhi semua kebutuhan manusia.</p>
<p>&#8220;Dialah yang menciptakan semua yang ada di bumi untuk kalian(manusia)&#8230;&#8230;..&#8221; (Al Baqarah ayat 29).</p>
<p>Allahu Akbar&#8230;Semua diciptakan untuk manusia&#8230; Alam yang indah, dan rapi  serta saling keterkaitan  semua ini merupakan nikmat dan rahmad yang besar untuk manusia. Ini merupakan kasih sayang Allah kepada manusia.</p>
<p><strong>Kemudian manusia diciptakan untuk  siapa?</strong></p>
<p>Kemudian manusia diciptakan untuk apa? Tidak mungkin manusia diciptakan tanpa tujuan. Apalagi semua yang ada diciptakan untuk manusia. Tentu ada tujuan yang lebih besar lagi dari semua ini.</p>
<p>Allah telah menegaskan tujuan penciptaan manusia dalam semua kitab suci yang dibawa para nabi dan rosul.  Manusia diciptakan agar menjadi hamba Penciptanya. Agar manusia menjadi pelayan Penciptanya. Agar dia bekerja hanya untuk Penciptanya yaitu Allah SWT.</p>
<p><em>“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku.”</em>(Adz Dzariat:56) .</p>
<p>Dengan demikian, sekarang kita tahu bahwa kita diciptakan oleh Allah agar menjadi pelayan Allah, mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dengan kalimat yang ringkas, Manusia diciptakan untuk beribadah hanya kepada Allah. Ibadah kepada Allah&#8230;inilah perkara terbesar dimana kita hidup untuknya.  Di tulis oleh Yusuf Iskandar diterbitkan di buletin Ad Dakwah edisi 1/I/2010<!--more--><!--more--></p>
<br /> Tagged: <a href='http://generasianaksholeh.wordpress.com/tag/perkara-besar/'>Perkara besar</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/generasianaksholeh.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/generasianaksholeh.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/generasianaksholeh.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/generasianaksholeh.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/generasianaksholeh.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/generasianaksholeh.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/generasianaksholeh.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/generasianaksholeh.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/generasianaksholeh.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/generasianaksholeh.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/generasianaksholeh.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/generasianaksholeh.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/generasianaksholeh.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/generasianaksholeh.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=generasianaksholeh.wordpress.com&amp;blog=12138555&amp;post=24&amp;subd=generasianaksholeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/02/22/kita-hidup-untuk-perkara-besar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fajarilahibatam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AGUNGKAN ILMU DALAM HATIMU</title>
		<link>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/02/20/agungkan-ilmu-dalam-hatimu/</link>
		<comments>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/02/20/agungkan-ilmu-dalam-hatimu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 06:31:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fajarilahibatam</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[agungkan ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://generasianaksholeh.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Agungkan Ilmu dalam Hatimu Penulis: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Bintu ‘Imran Dunia, memang masih menjadi orientasi utama banyak orang. Tak heran, harta yang berlimpah, jabatan, popularitas, dan berbagai bentuk kesenangan lainnya menjadi buruan manusia siang malam. Padahal dunia adalah fatamorgana, kesenangan yang dirasakan akan menyisakan kehampaan, kepedihan, dan keletihan. Hanya ilmu agama yang bisa meredam ambisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=generasianaksholeh.wordpress.com&amp;blog=12138555&amp;post=18&amp;subd=generasianaksholeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a title="http://anakmuslim.wordpress.com/2007/10/02/agungkan-ilmu-dalam-hatimu/ Permanent Link to Agungkan Ilmu dalam Hatimu" rel="bookmark" href="http://anakmuslim.wordpress.com/2007/10/02/agungkan-ilmu-dalam-hatimu/">Agungkan Ilmu dalam Hatimu</a></h2>
<p><em>Penulis: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Bintu ‘Imran</em></p>
<p>Dunia, memang masih menjadi orientasi utama banyak orang. Tak heran, harta yang berlimpah, jabatan, popularitas, dan berbagai bentuk kesenangan lainnya menjadi buruan manusia siang malam. Padahal dunia adalah fatamorgana, kesenangan yang dirasakan akan menyisakan kehampaan, kepedihan, dan keletihan. Hanya ilmu agama yang bisa meredam ambisi manusia terhadap sifat serakah terhadap dunia.</p>
<p>Siapa yang tak mengharapkan anaknya menjadi seorang yang punya kedudukan? Sepertinya, hampir tak ada orangtua yang tak memiliki bayangan cita-cita setinggi langit untuk anak mereka. Biasanya, sejak si anak masih dalam buaian, mereka telah menyimpan berbagai keinginan dan harapan. Pokoknya, yang terbaiklah yang ada dalam angan-angan. “Semoga anakku menjadi ‘orang’, semoga memiliki masa depan yang lebih baik dari pada ibu bapaknya, semoga jadi orang yang paling ini, paling itu ….” dan sejuta lambungan ’semoga’ yang lainnya.</p>
<p>Tak berhenti sampai di situ, bahkan segala yang dapat mendukung tercapainya cita-cita itu pun turut disediakan sejak dini. Mulai dari tabungan biaya pendidikan, sampai prasarana yang diperkirakan menunjang pun disiapkan baik-baik. Berbagai pendidikan prasekolah pun diikuti agar melicinkan jalan si anak memperoleh cita-citanya atau justru cita-cita orangtuanya.</p>
<p>Namun di balik segala cita-cita, ada sebuah kemuliaan yang seringkali justru terluputkan, bahkan diremehkan oleh banyak orangtua. Padahal inilah kemuliaan hakiki yang akan didapatkan oleh si anak jika dia benar-benar meraihnya. Kemuliaan yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Kitab-Nya yang mulia:</p>
<p><big><big><big>يَرْفَعِ  اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا العِلْمَ  دَرَجَاتٍ</big></big></big></p>
<p>“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.”(Al-Mujadilah: 21)</p>
<p>Demikianlah, dalam kalam-Nya ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa Dia akan mengangkat derajat orang yang beriman lagi berilmu di atas orang yang beriman namun tidak berilmu. Ketinggian derajat akan diperolehnya di dunia berupa kedudukan yang tinggi serta reputasi yang baik, juga akan dicapai pula di akhirat berupa kedudukan yang tinggi di dalam surga. (Fathul Bari 1/186)<span id="more-18"></span></p>
<p>Mengapa tak cukup kedudukan dan kekayaan sebagai bekal? Bukankah dengan itu anak akan mendapatkan segalanya? Nampaknya benar bila kita tak mengkaji dalam-dalam. Namun sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan, sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu ‘anhu:</p>
<p><big><big>إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِي مَالِهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلهِ فِيْهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُوْلُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ وَهُمَا فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لاَ يَتَّقِي فِيْهِ رَبَّهُ وَلاَ يَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَلاَ يَعْلَمُ لِلهِ فِيْهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا فَهُوَ يَقُوْلُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ</big></big></p>
<p>“Dunia itu diberikan kepada empat golongan: (1) seorang hamba yang Allah anugerahi harta dan ilmu, maka dia pun bertakwa kepada Rabbnya dalam hal hartanya, menggunakan hartanya untuk menyambung tali kekerabatan dan mengetahui bahwa Allah memiliki hak dalam hartanya itu, maka dia berada pada derajat yang paling mulia di sisi Allah. (2) Dan seorang hamba yang Allah karuniai ilmu namun tidak diberi harta, dia adalah seorang yang benar niatnya. Dia katakan, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku akan beramal seperti amalan Fulan’, maka dengan niatnya itu pahala mereka berdua sama. (3) Juga seorang hamba yang Allah beri harta namun tidak dikaruniai ilmu, sehingga dia gunakan hartanya tanpa ilmu. Dia tidak bertakwa kepada Rabbnya dalam hartanya itu, tidak menggunakannya untuk menyambung tali kekerabatan, dan tidak pula mengetahui ada hak Allah dalam hartanya, maka dia berada pada derajat yang paling hina di sisi Allah. (4) Dan seorang hamba yang tidak Allah beri harta maupun ilmu, lalu dia mengatakan, ‘Seandainya aku memiliki harta aku akan berbuat seperti perbuatan Fulan’, maka dengan niatnya itu dosa mereka berdua sama.” (HR. At-Tirmidzi no. 2325, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: Shahih)</p>
<p>Dengan begitu, jelaslah bahwa sekedar bekal harta takkan cukup bagi seseorang. Perlu sesuatu yang lebih penting daripada itu, yang justru nanti akan menyelamatkannya dari kerusakan dalam mengelola harta yang dimilikinya. Itulah ilmu. Akan berbeda tentunya orang yang mengetahui syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan orang yang tidak mengetahuinya, bagaikan perbedaan siang dan malam, sebagaimana Allah firmankan dalam Tanzil-Nya:</p>
<p><big><big><big>هَلْ  يَسْتَوِي الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لاَ  يَعْلَمُوْنَ</big></big></big></p>
<p>“Apakah sama antara orang yang  berilmu dengan orang yang tidak berilmu?” (Az Zumar: 9)</p>
<p>Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi  Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah menasehatkan tentang keutamaan ilmu  dibandingkan dengan harta:</p>
<p><big><big>العِلْمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَالِ، العِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ، العِلْمُ يَزْكُو عَلَى العَمَلِ وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ، وَمَحَبَّةُ العَالِمِ دِيْنٌ يُدَانُ بِهِ، العِلْمُ يُكْسِبُ العَالِمَ الطَّاعَةَ فِي حَيَاتِهِ، وَجَمِيْلَ اْلأُحْدُوْثَةِ بَعْدَ مَوْتِهِ، وَصَنِيْعَةُ الْمَالِ تَزُوْلُ بِزَوَالِهِ، مَاتَ خُزَّانُ اْلأَمْوَالِ وَهُمْ أَحْيَاءُ وَالْعُلَمَاءُ بَاقُوْنَ مَا بَقِيَ الدَّهْرُ، أَعْيَانُهُمْ مَفْقُوْدَةٌ وَأَمْثَالُهُمْ فِي القُلُوْبِ مَوْجُوْدَةٌ</big></big></p>
<p>“Ilmu itu lebih baik daripada harta, karena ilmu akan menjagamu sementara harta harus engkau jaga. Ilmu akan terus bertambah dan berkembang dengan diamalkan sementara harta akan terkurangi dengan penggunaan. Dan mencintai seorang yang berilmu adalah agama yang dipegangi. Ilmu akan membawa pemiliknya untuk berbuat taat selama hidupnya dan akan meninggalkan nama yang harum setelah matinya. Sementara orang yang memiliki harta akan hilang seiring dengan hilangnya harta. Pengumpul harta itu seakan telah mati padahal sebenarnya dia masih hidup. Sementara orang yang berilmu akan tetap hidup sepanjang masa. Jasad-jasad mereka telah tiada, namun mereka tetap ada di hati manusia.” (dinukil dari Min Washaya As-Salaf, hal. 13-14)</p>
<p>Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri  rahimahullahu pernah pula mengatakan:</p>
<p><big><big><big>بَابٌ مِنَ  الْعِلْمِ يَتَعَلَّمُهُ الرَّجُلُ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا  فِيْهَا</big></big></big></p>
<p>“Satu bab ilmu agama yang dipelajari oleh seseorang lebih baik baginya daripada dunia seisinya.” (dinukil dari Waratsatul Anbiya`, hal. 18)</p>
<p>Ayat-ayat di dalam Al-Qur`an, maupun Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan kemuliaan orang yang berilmu amat berbilang banyaknya. Ayat dalam surah Al-Mujadilah di atas adalah salah satunya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memerintahkan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan sesuatu kecuali ilmu:</p>
<p><big><big>وَقُلْ رَبِّ  زِدْنِي عِلْمًا</big></big></p>
<p>“Dan katakanlah: Wahai Rabbku,  tambahkanlah ilmu padaku.” (Thaha: 114)</p>
<p>Ash-Shadiqul Mashduq (yang jujur dan dibenarkan kabar yang dibawanya), Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa orang berilmu akan mendapatkan kebaikan hakiki dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini disampaikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma ketika berkhutbah:</p>
<p><big><big><big>سَمِعْتُ  رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ: مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي  الدِّيْنِ</big></big></big></p>
<p>“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan kebaikan, maka Allah akan faqihkan dia dalam agama’.” (HR. Al-Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)</p>
<p>Ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menunjukkan keutamaan ilmu dan memahami agama serta berisi anjuran untuk mendapatkannya. Karena semua ini akan menuntun seseorang untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Syarh Shahih Muslim, 7/127)</p>
<p>Dari sini bisa dipahami pula bahwa orang yang tidak memahami agama –dalam arti mempelajari kaidah-kaidah Islam dan segala yang berkaitan dengannya– berarti Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan dari kebaikan. (Fathul Bari, 1/217)</p>
<p>Inilah yang dicita-citakan oleh para pendahulu kita yang shalih. Mereka tidak bercita-cita agar anak mereka kelak menjadi hartawan atau penguasa, karena mereka sangat memahami, kemuliaan dan kebaikan mana yang hakiki. Oleh karena itu, mereka senantiasa berupaya agar anak-anak mereka menjadi anak-anak yang berhias dengan adab yang tinggi dan berbekal dengan ilmu. Mereka merasakan kebanggaan bila si anak memiliki pemahaman terhadap syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala ini lebih dari kebanggaan apa pun, dan merasakan penyesalan bila si anak terlewatkan dari keutamaan seperti ini.</p>
<p>‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu menyertakan putranya, ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma untuk duduk di majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama orang-orang dewasa dari kalangan para sahabat. Ibnu ‘Umar adalah peserta termuda dalam majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. ‘Umar pun merasa bangga bila sang putra memiliki ilmu lebih daripada yang dimiliki orang lain yang ada di situ. Peristiwa ini dikisahkan sendiri oleh ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:</p>
<p><big><big>كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَخْبِرْنِي بِشَجَرَةٍ تُشْبِهُ أَوْ كَالرَّجُلِ الْمُسْلِمِ لاَ يَتَحَاتُّ وَرَقُهَا وَلاَ وَلاَ وَلاَ، تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ. قَالَ ابْنُ عُمَرَ: فَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ، وَرَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لاَ يَتَكَلَّمَانِ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ. فَلَمَّا لَمْ يَقُوْلُوْا شَيْئًا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هِيَ النَّخْلَةُ. فَلَمَّا قُمْنَا قُلْتُ لِعُمَرَ: يَا أَبَتَاهُ، وَاللهِ لَقَدْ كَانَ وَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ. فَقَالَ: مَا مَنَعَكَ أَنْ تَكَلَّمَ؟ قَالَ: لَمْ أَرَكُمْ تَكَلَّمُوْنَ فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ أَوْ أَقُوْلَ شَيْئًا. قَالَ عُمَرُ: لأَنْ تَكُوْنَ قُلْتَهَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا</big></big></p>
<p>“Kami dulu pernah duduk di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bertanya pada kami, ‘Beritahukan padaku tentang sebuah pohon yang menyerupai atau seperti seorang muslim, tak pernah gugur daunnya, tidak demikian dan demikian, selalu berbuah sepanjang waktu.’ Ibnu ‘Umar berkata, ‘Waktu itu terlintas dalam benakku bahwa itu adalah pohon kurma. Namun aku melihat Abu Bakr dan ‘Umar tidak menjawab apa pun sehingga aku pun merasa segan pula untuk menjawabnya. Ketika para shahabat tidak menjawab sedikit pun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Itu pohon kurma.’ Saat kami telah bubar, kukatakan pada ayahku ‘Umar, ‘Wahai ayah, demi Allah, sesungguhnya tadi terlintas dalam benakku, itu adalah pohon kurma.’ Ayahku pun bertanya, ‘Lalu apa yang membuatmu tidak menjawab?’ Ibnu ‘Umar menjawab, ‘Aku melihat anda semua tidak berbicara sehingga aku merasa segan pula untuk menjawab atau mengatakan sesuatu.’ Kata ‘Umar, ‘Sungguh kalau tadi engkau menjawab, itu lebih kusukai daripada aku memiliki ini dan itu!’.” (HR Al-Bukhari no. 4698)</p>
<p>Para pendahulu kita amat bersemangat agar anak-anak mereka memiliki pendidik semenjak kecil dan benar-benar berpesan pada si anak agar bersemangat belajar. Mereka pun betul-betul perhatian dengan memberikan sarana yang akan digunakan anak mereka untuk menuntut ilmu. Seperti ‘Utbah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu yang berpesan kepada pendidik putranya: “Ajarilah dia Kitabullah, puaskan dia dengan hadits dan jauhkan dia dari syi’ir.” (dinukil dari Waratsatul Anbiya`, hal. 30)</p>
<p>Banyak gambaran dalam kehidupan salafush shalih yang melukiskan semangat mereka terhadap pendidikan anak yang dilatari dan dilandasi dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka ajarkan pada si anak tentang beratnya perjalanan menuntut ilmu dengan segala aral merintang. Bahkan mereka tak segan kehilangan harta untuk perjalanan anak-anak mereka menuntut ilmu agar kelak dapat memberikan manfaat pada diri si anak sendiri dan lebih dari itu, pada Islam dan kaum muslimin.</p>
<p>‘Ali bin ‘Ashim Al-Wasithi rahimahullahu menceritakan tentang kesungguhan pengorbanan ayahnya, “Ayahku pernah memberiku uang seratus ribu dirham sambil berkata, ‘Pergilah untuk menuntut ilmu, dan aku tak ingin melihat wajahmu kecuali setelah engkau menghapal seratus ribu hadits!’.” ‘Ali pun pergi jauh untuk menuntut ilmu, kemudian pulang untuk mengajarkan ilmu yang didapatkannya, sampai-sampai yang hadir di majelisnya lebih dari tigapuluh ribu orang. (dinukil dari Waratsatul Anbiya`, hal. 32)</p>
<p>Begitu pula Al-Mu’tamir bin Sulaiman mengisahkan tentang pesan sang ayah, “Ayahku pernah menulis surat padaku saat aku berada di Kufah, ‘Belilah buku dan catatlah ilmu, karena harta itu akan musnah, sementara ilmu itu akan kekal’.” (dinukil dari Waratsatul Anbiya`, hal. 32)</p>
<p>Bila ilmu dimiliki oleh seseorang, maka kehormatan dan kemuliaan akan datang tanpa diundang dan dicari-cari.Tak memandang apakah dia keturunan bangsawan atau seorang budak, ataukah dia seorang rupawan atau tidak. Memang, bila akhirat menjadi tujuan seseorang, maka dunia pun akan Allah Subhanahu wa Ta’ala datangkan kepadanya. Sebaliknya, bila dunia yang menjadi cita-citanya, maka kehinaan semata yang akan dia dapatkan. Demikian dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><big><big>مَنْ كَانَتِ اْلآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ</big></big></p>
<p>“Barangsiapa yang akhirat menjadi tujuannya, Allah akan jadikan kekayaan dalam hatinya, dan Allah kumpulkan baginya urusannya yang tercerai-berai, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tidak suka kepadanya. Dan barangsiapa yang dunia menjadi cita-citanya, Allah akan jadikan kefakiran di depan matanya, Dia cerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan mendatanginya kecuali hanya apa yang telah ditentukan baginya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2465, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: Shahih)</p>
<p>Ibnul Jauzi rahimahullahu pernah menasihati putranya dan menganjurkannya untuk menyibukkan diri dengan ilmu. Beliau berkata, “Ketahuilah, ilmu itu akan mengangkat orang yang hina. Banyak kalangan ulama yang tidak memiliki nasab yang bisa dibanggakan dan tidak punya wajah yang rupawan.”</p>
<p>Bahkan ‘Atha` bin Abi Rabah rahimahullahu adalah seorang yang berkulit hitam dan berwajah jelek, namun didatangi oleh Khalifah Sulaiman bin ‘Abdil Malik bersama dua orang putranya. Mereka duduk di hadapan ‘Atha` untuk bertanya masalah manasik haji. ‘Atha` pun menjelaskan pada mereka bertiga sambil memalingkan wajahnya dari mereka. Sang Khalifah berkata kepada kedua putranya, “Bangkitlah, dan jangan lalai dan malas untuk mencari ilmu. Aku tidak akan pernah melupakan kehinaan kita di hadapan budak hitam ini.” (dinukil dari Waratsatul Anbiya`, hal. 33)</p>
<p>Kalau demikian kenyataannya, tentunya orangtua tak akan membiarkan angan-angannya melambung tanpa arah. Mengantarkan anak menjadi seorang yang mengerti tentang syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan segala seluk-beluknya berarti mengantarkan anak menjadi seorang yang akan dimuliakan di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Oleh karena itu, hendaknya orangtua selalu berusaha membimbing anak-anaknya untuk mengikuti halaqah-halaqah ilmu, menekankannya, dan menyemangati mereka agar bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan untuk menuntut ilmu, tanpa rasa bosan dan letih. Karena jalan ini akan menyampaikan mereka pada ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berujung jannah-Nya yang kekal abadi. Benarlah janji Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:</p>
<p><big><big>مَنْ سَلَكَ  طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى  الْجَنَّةِ</big></big></p>
<p>“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya dengan ilmu tersebut, jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)</p>
<p>Wallahu ta’ala a’lamu  bish-shawab.</p>
<br /> Tagged: <a href='http://generasianaksholeh.wordpress.com/tag/agungkan-ilmu/'>agungkan ilmu</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/generasianaksholeh.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/generasianaksholeh.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/generasianaksholeh.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/generasianaksholeh.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/generasianaksholeh.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/generasianaksholeh.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/generasianaksholeh.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/generasianaksholeh.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/generasianaksholeh.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/generasianaksholeh.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/generasianaksholeh.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/generasianaksholeh.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/generasianaksholeh.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/generasianaksholeh.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=generasianaksholeh.wordpress.com&amp;blog=12138555&amp;post=18&amp;subd=generasianaksholeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/02/20/agungkan-ilmu-dalam-hatimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fajarilahibatam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ILMU ITU DIDATANGI</title>
		<link>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/02/20/ilmu-itu-didatangi/</link>
		<comments>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/02/20/ilmu-itu-didatangi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 06:25:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fajarilahibatam</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://generasianaksholeh.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Al-Hamdu Lillah, Dia-lah menciptakan kita dan amal kita, bertaqwalah kita kepada-Nya dan perbaikilah amal kita dengan syari’at-Nya dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah Tabaaraka wa Ta’ala baikan dan berkah-kan usaha antum dalam meniti jalan-Nya. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi. Dengan berinteraksi, mereka dapat mengambil dan memberikan manfaat. Salah satu praktek [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=generasianaksholeh.wordpress.com&amp;blog=12138555&amp;post=15&amp;subd=generasianaksholeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--end meta--></p>
<div>
<div>
<p>Al-Hamdu Lillah, Dia-lah menciptakan kita dan amal kita, bertaqwalah kita kepada-Nya dan perbaikilah amal kita dengan syari’at-Nya dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah Tabaaraka wa Ta’ala baikan dan berkah-kan usaha antum dalam meniti jalan-Nya.</p>
<p>Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi. Dengan berinteraksi, mereka dapat mengambil dan memberikan manfaat. Salah satu praktek yang merupakan hasil interaksi sesama manusia adalah terjadinya jual beli yang dengannya mereka mampu mendapatkan kebutuhan yang mereka inginkan. Islam pun mengatur permasalahan ini dengan rinci dan seksama sehingga ketika mengadakan transaksi jual beli, manusia mampu berinteraksi dalam koridor syariat dan terhindar dari tindakan-tindakan aniaya terhadap sesama manusia, hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan ajaran yang bersifat universal dan komprehensif.</p>
<p>Kondisi umat ini memang menyedihkan, dalam praktek jual beli mereka meremehkan batasan-batasan syariat, sehingga sebagian besar praktek jual beli yang terjadi di masyarakat adalah transaksi yang dipenuhi berbagai unsur penipuan, keculasan dan kezaliman. Lalai terhadap ajaran agama, sedikitnya rasa takut kepada Allah merupakan sebab yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut, tidak tanggung-tanggung berbagai upaya ditempuh agar keuntungan dapat diraih, bahkan dengan melekatkan label syar’i pada praktek perniagaan yang sedang marak belakangan ini walaupun pada hakikatnya yang mereka lakukan itu adalah transaksi ribawi.</p>
<p>Jika kita memperhatikan praktek jual beli yang dilakukan para pedagang saat ini, mungkin kita dapat menarik satu konklusi, bahwa sebagian besar para pedagang dengan “ringan tangan” menipu para pembeli demi meraih keuntungan yang diinginkannya, oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>إِنَّ التُّجَّارَ هُمْ الْفُجَّارُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ قَالَ بَلَى وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ وَيَحْلِفُونَ وَيَأْثَمُونَ</p>
<p>“Sesungguhnya para pedagang itu adalah kaum yang fajir (suka berbuat maksiat), para sahabat heran dan bertanya, “Bukankah Allah telah menghalalkan praktek jual beli, wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Benar, namun para pedagang itu tatkala menjajakan barang dagangannya, mereka bercerita tentang dagangannya kemudian berdusta, mereka bersumpah palsu dan melakukan perbuatan-perbuatan keji.” (Musnad Imam Ahmad 31/110, dinukil dari Maktabah Asy Syamilah)<span id="more-15"></span></p>
<p>Oleh karena itu seseorang yang menggeluti praktek jual beli wajib memperhatikan syarat-syarat sah praktek jual beli agar dapat melaksanakannya sesuai dengan batasan-batasan syari’at dan tidak terjerumus ke dalam tindakan-tindakan yang diharamkan .</p>
<p>Diriwayatkan  dari Amirul  Mu’minin ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu  ‘anhu, beliau berkata,</p>
<p>لَا يَبِعْ فِيْ  سُوْقِنَا إِلاَّ مَنْ يَفْقَهُ، وَإِلِا أَكَلَ الرِّباَ</p>
<p>“Yang boleh berjualan di pasar kami ini hanyalah orang-orang yang faqih (paham akan ilmu agama), karena jika tidak, maka dia akan menerjang riba.”</p>
<hr />Ikhwan  wa Akhwat Fillah,Hadirilah kajian Kitab Bulughul Mahrom-bab Al-Buyu’ (jual Beli)yang mana sebagai pengganti kajian Siroh Nabi yang mana sudah selesai.Dan alhamdulillah kajian pertama sudah di laksanakan kamis minggu lalu.<br />
Kajian  Rutin “Kitab Bulughul Mahrom-Bab Jual  beli”<br />
Pembawa materi : Ust. Abu  Fairuz,Lc</p>
<p>Hari/Waktu     : Setiap hari  Kamis,Ba’da Sholat Isya.<br />
Tempat          :  Masjid Sabiilun Najaati,komplek SDIT Fajar Ilahi,MKGR-Batuaji  Batam</p>
<p>” Ilmu Itu Kita Datangi, Bukan Ilmu Yang mendatangi Kita ” Hadis riwayat Abu Hurairah radiyallahu anhu ia berkata, Nabi salallahu ‘alaihi wasallam. bersabda, Sesungguhnya Allah yang Maha Memberkahi lagi Maha Tinggi memiliki beberapa malaikat yang selalu mengelilingi bumi dan jumlahnya terus bertambah. Mereka senantiasa mengamati forum-forum zikir(kajian ilmu). Apabila mereka mendapati ada suatu forum zikir, maka mereka akan ikut duduk di sana. Dengan sayapnya, mereka akan menganjurkan kawan-kawannya untuk ikut hadir dalam majlis tersebut, hingga para malaikat itu memenuhi antara mereka berada dan langit dunia.</p>
<p>Apabila orang-orang yang hadir dalam forum tersebut berpisah, mereka naik tangga menuju ke langit. Allah yang Maha Mulia lagi Maha Agung dan lebih tahu daripada mereka bertanya, dari mana kalian Mereka menjawab, Kami datang dari tempat hamba-hamba-Mu di dunia. Mereka mensucikan, mengagungkan, membesarkan, memuji dan memohon kepada-Mu. Allah bertanya, Apa yang mereka mohonkan kepadaku Para malaikat itu menjawab, Mereka memohon surga kepada-Mu. Allah bertanya, Apakah mereka sudah pernah melihat surga-Ku Para malaikat itu menjawab, Belum, Tuhan kami.</p>
<p>Allah berfirman, Bagaimana seandainya mereka pernah melihat surga-Ku Para malaikat itu juga berkata, Hamba- hamba-Mu itu juga memohon perlindungan kapada-Mu. Allah bertanya, Mereka memohon perlindungan-Ku dari apa Para malaikat menjawab, dari neraka-Mu, wahai Tuhan kami. Allah bertanya, Apakah mereka sudah pernah melihat neraka-Ku Para malaikat menjawab, Belum.</p>
<p>Allah berfirman, Bagaimana seandainya mereka sudah pernah melihat neraka-Ku Para malaikat itu selanjutnya mengatakan, dan mereka juga memohon ampun kepada-Mu. Allah berfirman, Aku sudah mengampuni mereka. Aku sudah berikan apa yang mereka mohon dan sudah Aku penuhi permohonan pahala mereka. Para malaikat itu berkata, Wahai Tuhan<br />
kami! Di antara mereka terdapat seorang hamba bernama si Fulan, dia orang yang penuh dosa. Sebetulnya dia hanya lewat saja lalu bergabung dengan orang-orang yang berada di forum itu. Allah berfirman, Aku juga telah mengampuninya. Mereka adalah kaum yang forumnya tidak diganggu oleh orang tersebut (Hadist terdapat dalam shahih Muslim)</p>
<p>Demikianlah para Ikhwan dan Akhwat bahwa Ilmu itu harus di datangi di majelisnya, karena haknya ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.<br />
Dan betapa Keutamaannya dan mulyanya orang-orang yang memuliakan majelis Ilmu serta Apakah kita-kita ini tidak tergiur dengan keutamaan dan fadilah<br />
yang diberikan Allah Rabbul’alamin ?.</p>
<p>Alangkah naifnya kita ini yang masih sedikit Ilmunya sudah merasa cukup dengan mendengarkan radio dari rumah, membaca buku sendiri dan lain-lain sedangkan para ulama salaf mereka hadir di majelis-majelis ilmu untuk mendengarkan dan menelaah guna menambah kuwalitas IMAN dan ILMU serta AMALAN mereka dan meraih fadilah keutamaan memuliakan majelis-majelis Ilmu.</p>
<p>( Agus Purwanto)</p>
</div>
</div>
<br /> Tagged: <a href='http://generasianaksholeh.wordpress.com/tag/ilmu/'>ilmu</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/generasianaksholeh.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/generasianaksholeh.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/generasianaksholeh.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/generasianaksholeh.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/generasianaksholeh.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/generasianaksholeh.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/generasianaksholeh.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/generasianaksholeh.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/generasianaksholeh.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/generasianaksholeh.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/generasianaksholeh.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/generasianaksholeh.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/generasianaksholeh.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/generasianaksholeh.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=generasianaksholeh.wordpress.com&amp;blog=12138555&amp;post=15&amp;subd=generasianaksholeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/02/20/ilmu-itu-didatangi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fajarilahibatam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>adakah isi dan kulit dalam islam?</title>
		<link>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/02/20/adakah-isi-dan-kulit-dalam-islam/</link>
		<comments>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/02/20/adakah-isi-dan-kulit-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 03:26:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fajarilahibatam</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[kulit dan isi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://generasianaksholeh.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[ADAKAH ISI DAN KULIT DALAM AJARAN ISLAM? Oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali Islam adalah agama yang bagian-bagiannya saling melengkapi. Jalan Allah yang ikatan-ikatannya tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Kaum Muslimin tidak boleh mengikuti orang-orang Yahudi yang mengimani sebagian Al-kitab dan mengingkari sebagian lainnya. Allah Ta’ala berfirman. “Apakah kamu (Bani Israil) beriman kepada sebahagian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=generasianaksholeh.wordpress.com&amp;blog=12138555&amp;post=9&amp;subd=generasianaksholeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ADAKAH ISI DAN KULIT DALAM AJARAN ISLAM?</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali</p>
<p>Islam adalah agama yang bagian-bagiannya saling melengkapi. Jalan Allah  yang ikatan-ikatannya tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Kaum  Muslimin tidak boleh mengikuti orang-orang Yahudi yang mengimani  sebagian Al-kitab dan mengingkari sebagian lainnya.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman.</p>
<p>“Apakah kamu (Bani Israil) beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat)  dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang  yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan  dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat  berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat” [Al-Baqarah : 85]</p>
<p>Termasuk bid’ah yang merebak pada zaman ini, yaitu anggapan sebagian  orang yang membagi Islam menjadi “kulit dan isi”, atau “kuliyat dan  juz-iyyat”, atau “bentuk dan isi”, atau “ushul dan furu”, atau “bagian  luar dan ruh”. Lalu mereka menyepelekan bagian agama yang dianggapnya  sebagai kulit atau juz’iyyat, atau bentuk semata.</p>
<p>Memang sebagian ulama ada yang menggunakan istilah ushul (pokok) dan  furu’ (cabang) dalam menjelaskan ajaran Islam, tetapi mereka tidak  bermaksud meremehkan furu’, apalagi meninggalkannya. Tetapi istilah itu  untuk menunjukkan nilai pentingnya. Karena semua bagian agama Islam ini  penting, namun nilai pentingnya tidaklah satu derajat</p>
<p>Adapun orang-orang yang memiliki anggapan sebagaimana di atas, sebagian  besar mereka kemudian tidak menaruh perhatian terhadap syi’ar-syi’ar  yang lahiriyah, yang mereka anggap sebagai kulit. Bahkan menuduh orang  yang berpegang dengannyan sebagai orang yang menyibukkan diri dengan  perkara cabang, dan orang yang mendakwahkannya dianggap mengobarkan  perselisihan dan perpecahan. Sehingga mereka mementahkan berbagai  masalah yang dikaji secara ilmiah dengan anggapan, bahwa itu merupakan  masalah cabang dan diperselisihkan oleh umat.</p>
<p>Anggapan ini tentu saja tidak diterima oleh agama yang mulia ini. Hal  ini dapat ditinjau dari beberapa sisi.</p>
<p>Pertama : Ayat-Ayat al-Qur’An Dengan Tegas Dan Jelas Memerintahkan Agar  Kaum Muslimin Berpegang Dengan Islam Secara Total.</p>
<p>Diantaranya Allah Azza wa Jalla berfirman.<br />
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan”  [Al-Baqarah : 208]</p>
<p>Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata pada tafsir ayat ini : “Allah  Ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya,  yang mempercayai Rasul-Nya, agar mereka memegangi seluruh ikatan-ikatan  dan syari’at-syari’at Islam, dan mengamalkan seluruh  perintah-perintahnya,  dan meninggalkan seluruh larangan-larangannya  semampu mereka”</p>
<p>Setelah Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam  Islam secara total. Dia memperingatkan manusia agar tidak mengikuti  langkah-langkah setan, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya.</p>
<p>“Dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu  musuh yang nyata bagimu” [Al-Baqarah : 208]</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa hanya ada dua jalan saja, yaitu masuk ke dalam  Islam secara total, atau mengikuti jalan-jalan setan yang memerintahkan  untuk memisah-misahkan syari’at-syari’at Allah dan meremehkan  sebagiannya.<span id="more-9"></span></p>
<p>Kedua : Hadits-Hadits Menunjukkan Bahwa Perkara-Perkara Yang Mereka  Anggap Sebagai Cabang Atau Kulit Itu Memiliki Hubungan Yang Kuat Dengan  Pahala Yang Besar, Kedudukan Yang Mulia, Dan Kenikmatan Abadi.</p>
<p>Di antaranya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Jika imam berkata “ghairil magh-zhubi ‘alaihim walazh-zhallin”, maka  katakanlah “amin”, karena sesungguhnya barangsiapa perkataannya  bertepatan perkataan para malaikat, diampuni dosanya yang telah lalu”  [HR Bukhari no 782, Muslim no. 410, dari Abu Hurairah]</p>
<p>Demikian juga hadits-hadits menjelaskan bahwa perkara-perkara yang  mereka anggap cabang itu merupakan tonggak kemuliaan dan tetapnya agama  ini memperoleh kemenangan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda.</p>
<p>“Agama ini selalu nampak nyata (menang) selama orang-orang (Islam)  menyegerakan berbuka, karena  sesungguhnya orang-orang Yahudi dan  Nashara mengakhirkan (berbuka)” [HR Abu Dawud no. 2353, dihasankan oleh  Syaikh Al-Albani]</p>
<p>Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak hanya mementingkan  perkara-perkara besar, kemudian tersibukkan dari perkara-perkara yang  mereka anggap perkara kecil.</p>
<p>“Dari Aisyah –semoga Allah meridhainya-, yaitu isteri Nabi Shallallahu  ‘alaihi wa sallam, beliau memberitakan bahwa beliau membeli bantal duduk  yang padanya terdapat gambar-gambarnya (makhluk bernyawa, -pent).  Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihatnya, beliau  berdiri di depan pintu, tidak masuk. ‘Aisyah melihat ketidaksukaan pada  wajah Rasulullah. ‘Aisyah berkata : “Wahai Rasulullah, aku bertaubat  kepada Allah dan Rasul-Nya. Dosa apakah yang telah aku lakukan?” Beliau  bersabda : “Apa pentingnya bantal duduk ini?” Aisyah menjawab : “Aku  membelinya agar Anda duduk padanya dan menggunakannya sebagai bantal”  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya para  pembuat gambar ini akan disiksa pada hari Kiamat. Dan akan dikatakan  kepada mereka : ‘hidupkan apa yang telah ciptakan”, dan beliau bersabda :  “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar  (patung-patung) tidak akan dimasuki oleh para malaikat” [HR Bukhari no.  5957]</p>
<p>Ketiga : Fatwa-Fatwa Ulama Menjelaskan Tentang Kebatilan Pembagian  Tersebut</p>
<p>Antara lain fatwa Syaikh ‘Izz bin Abdis Salam rahimahullah, beliau  berkata : “Tidak boleh mengistilahkan syari’at dengan “kulit”, karena di  dalam syari’at itu terdapat banyak manfaat dan kebaikan. Bagaimana  perintah ketaatan dan keimanan merupakan “kulit”? Sesungguhnya ilmu yang  disebut dengan “hakikat” adalah satu bagian dari ilmu syari’at. Dan  tidak menggunakan istilah-istilah ini kecuali orang yang dungu, celaka  dan kurang ajar. Seandainya dikatakan kepada salah seorang dari mereka :  “Sesungguhnya perkataan syaikh (guru) mu itu “kulit”, pastilah dia  mengingkarinya dengan keras. Namun dia menyebut “kulit” terhadap  syari’at! Sedangkan syari’at itu hanyalah Kitab Allah dan Sunnah  Rasul-Nya. Maka orang jahil (bodoh) tersebut perlu dihukum dengan  hukuman yang pantas dengan dosanya ini” [Fatawa Izz bin Abdis Salam,  halaman 71-72]</p>
<p>Dengan ini semua jelaslah bahwa wajib memegangi Islam secara total,  yakni mencakup kehidupan individu dan masyarakat. Syari’at Islam tidak  meninggalkan perkara-perkara kecil, apalagi yang besar ; semua  dijelaskan. Dengan demikian, Islam merupakan bangunan yang tinggi dan  sempurna, dengan fondasi yang kuat dan kokoh.</p>
<p>Kemudian dari pembagian yang tidak benar ini, yaitu beranggapan agama  itu terdiri dari kulit dan isi, sebagian tokoh-tokoh kelompok Islam,  seperti Syaikh Hasan Al-Bana, membangun kaidah lemah yang membolehkan  terjadinya perpecahan umat. Yaitu kaidah :</p>
<p>“Kita saling menolong dalam perkara yang kita sepakati, dan saling  toleransi dalam perkara yang kita berselisih padanya”.</p>
<p>Kemudian kaidah ini menjadi ketetapan pasti yang dibacakan kepada para  pengikutnya. Dengan kaidah ini, mereka menentang setiap dakwah yang  mengajak untuk bersatu di atas kalimat yang haq dan menentang penjelasan  menurut Sunnah Nabi, tentang sikap terhadap para ahli bid’ah yang  mengikuti hawa nafsu.</p>
<p>Kaidah ini pertama kali dibuat oleh Syaikh Muhammad Rasyid Ridha  rahimahullah, kemudian beliau memandangnya sebagai kaidah yang rusak,  sehingga beliau berlepas diri darinya. Namun Syaikh Hasan Al-Bana  mengambilnya dan mendengungkannya. Dan kaidah yang rusak ini juga  digunakan oleh Ikhwanul Muslimin untuk melakukan pendekatan dengan  Syi’ah Rafidhah!</p>
<p>Seandainya kaidah ini diterapkan, pasti ajaran Islam akan rontok satu  persatu, karena :</p>
<p>1). Perselisihan antar umat Islam terjadi sampai dalam perkara aqidah  dan prinsip-prinsip. Oleh karena inilah umat berpecah-belah menjadi  banyak kelompok. Maka orang yang memberikan toleransi perselisihan  seperti ini, berarti dia membenarkan apa yang dilarang oleh Allah.</p>
<p>2). Kaidah ini tidak memiliki landasan dari Al-Kitab, As-Sunnah, dan  pemahaman Salafush Shalih. Bahkan manhaj Salaf bertentangan dengan  kaidah rusak ini.</p>
<p>3). Seandainya kita praktekkan kaidah ini, pasti akan terbuka kerusakan  yang sangat besar. Karena berarti kita memberikan toleransi kepada  orang-orang yang menyerukan pemahaman wihdatul wujud [1], pemahaman  Khawarij, nikah mut’ah, thawaf di kuburan, tawasul dengan orang-orang  yang telah mati, mengingkari sifat-sifat Allah, pemahaman Jabariyah, dan  kesesatan-kesesatan lainnya.</p>
<p>4). Hasil kaidah ini adalah kebalikan dari kemauan pembuatnya. Kemauan  pembuatnya ialah untuk menghentikan perselisihan antar umat Islam. Namun   kenyataan menunjukkan, bahwa kaidah ini menjadi sebab bertambahnya  perselisihan dan perpecahan. Oleh karena itulah para ulama pada  zaman  ini memfatwakan batilnya kaidah ini, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh  Dr. Hamd ‘Utsman –haizhahullah- di dalam kitabnya, Zajrul Mutahawun bi  Dharari Qaidah Al-Ma’dzirah wat Ta’awun, halaman 123-133.</p>
<p>Sesungguhnya kebaikan itu hanyalah dengan kembali kepada agama yang  mulia ini dalam segala bidangnya sesuai dengan kemampuan. Wallahul  Musta’an.</p>
<p>[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XI/1428H/2007M. Penerbit  Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8  Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]<br />
_________<br />
Footnote<br />
[1]. Suatu pemahaman rusak yang dikafirkan oleh para ulama. Yaitu  anggapan bahwa wujud hanyalah satu ; makhluk bersatu dengan sang Khaliq.</p>
<br /> Tagged: <a href='http://generasianaksholeh.wordpress.com/tag/kulit-dan-isi/'>kulit dan isi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/generasianaksholeh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/generasianaksholeh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/generasianaksholeh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/generasianaksholeh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/generasianaksholeh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/generasianaksholeh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/generasianaksholeh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/generasianaksholeh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/generasianaksholeh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/generasianaksholeh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/generasianaksholeh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/generasianaksholeh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/generasianaksholeh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/generasianaksholeh.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=generasianaksholeh.wordpress.com&amp;blog=12138555&amp;post=9&amp;subd=generasianaksholeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/02/20/adakah-isi-dan-kulit-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fajarilahibatam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Batasan safar</title>
		<link>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/02/20/batasan-safar/</link>
		<comments>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/02/20/batasan-safar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 03:11:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fajarilahibatam</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[safar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://generasianaksholeh.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Batasan Safar Budi Ari Thu, 22 Nov 2007 00:48:15 -0800 Wa&#8217;alaykumus salaam warahmatullaHi wabarakatuH. Semoga penjelasan dibawah ini dapat bermanfaat: Jika seorang musafir tinggal di suatu daerah untuk menunaikan suatu kepentingan, namun tidak berniat mukim, maka dia [dapat] melakukan qashar terus menerus hingga meninggalkan daerah tersebut.  Ini adalah madzhab al Hasan, Qatadah, Ishaq dan pendapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=generasianaksholeh.wordpress.com&amp;blog=12138555&amp;post=3&amp;subd=generasianaksholeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Batasan Safar</p>
<p>Budi Ari<br />
Thu, 22 Nov 2007 00:48:15 -0800</p>
<p>Wa&#8217;alaykumus salaam warahmatullaHi wabarakatuH.</p>
<p>Semoga penjelasan dibawah ini dapat bermanfaat:</p>
<p>Jika seorang musafir tinggal di suatu daerah untuk menunaikan suatu</p>
<p>kepentingan, namun tidak berniat mukim, maka dia [dapat] melakukan qashar terus menerus hingga meninggalkan daerah tersebut.  Ini adalah madzhab al Hasan, Qatadah, Ishaq dan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Majmu al Fatawa XXIV/18 dan al Muhalla V/23).</p>
<p>Mereka beragumen dengan dalil-dalil sebagai berikut :</p>
<p>Dari Jabir radhiyallaHu anHu, dia berkata, Nabi Shalallahu alaiHi wa</p>
<p>sallam tinggal di Tabuk selama dua puluh hari sambil tetap mengashar shalat</p>
<p>(HR. Abu Dawud no. 1223, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi</p>
<p>Dawud no. 1094)</p>
<p>Dari Ibnu Abbas radhiyallaHu anHu, dia berkata, Nabi Shalallahu alaiHi wa</p>
<p>sallam tinggal selama 19 hari sambil melakukan qashar.  Jika kami melakukan</p>
<p>safar selama 19 hari, maka kami melakukan qashar.  Dan jika lebih dari itu,</p>
<p>maka kami menyempurnakan shalat (HR. Al Bukhari no. 1080, At Tirmidzi no. 547,</p>
<p>dan Ibnu Majah no. 1075)</p>
<p>Hadits-hadits tersebut di atas menunjukkan bahwa musafir itu pada hakikatnya</p>
<p>tidak bertalian dengan batas waktu tertentu.  Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa</p>
<p>sallam terkadang mengqashar shalat selama delapan belas hari atau sembilan</p>
<p>belas hari atau pun dua puluh hari karena beliau musafir.</p>
<p>Para salafush shalih pun seperti Ibnu Umar, pernah bermukim di Azerbaijan</p>
<p>selama enam bulan, selama musim salju dan beliau terus menerus shalat dua</p>
<p>rakaat (HR. al Baihaqi III/152 dan Ahmad II/83, sanadnya shahih, lihat al</p>
<p>Irwa no. 577)</p>
<p>Semoga Bermanfaat</p>
<p><ins> </ins></p>
<h2><a title="Baca Batasan Safar" href="http://adiabdullah.wordpress.com/2007/11/28/batasan-safar/">Batasan Safar</a></h2>
<p>28 11 2007</p>
<p>Oleh : Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani<br />
“Artinya : <em>Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam manakala keluar sejauh tiga mil atau tiga farskah (Syu’bah ragu), dia mengqashar shalat. (Dalam suatu riwayat) : Dia shalat dua rakaat</em>“.Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad (3/129) dan Al-Baihaqi (2/146).<br />
Susunan kalimat darinya adalah dari Muhammad bin Ja’far : ” Telah bercerita kepadaku Syu’bah, dari Yahya bin Yazid Al-Hanna’i yang menuturkan :</p>
<p>“Aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang mengqashar shalat. Sedangkan aku pergi ke Kufah maka aku shalat dua raka’at hingga aku kembali. Kemudian Anas berkata : (Lalu dia menyebutkan hadits ini)”.<span id="more-3"></span></p>
<p>Saya menilai hadits ini sanadnya jayyid (bagus). Semua perawinya tsiqah,yakni para perawi Asy-Syaikhain, kecuali Al-Hanna’i dimana dia adalah perawi Muslim. Namun segolongan orang-orang tsiqah juga telah meriwayatkan darinya.</p>
<p>Sementara itu Ibnu Abi Hatim (4/2/198) menceritakan dari bapaknya yang memberiatahukan : “Al-Hanna’i adalah seorang yang telah lanjut usia”. Hal ini juga disinggung oleh Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqaat (1/257) dimana dia menyebutkan kakeknya dengan nama Murrah. Ibnu Hibban menandaskan :<br />
“Barangsiapa mengatakan, ‘Yazid bin Yahya atau Ibnu Abi Yahya”, maka sesungguhnya dia salah menduga”.</p>
<p>Dan hadits ini juga dikeluarkan oleh Imam Muslim (2/145), Abu Dawud (1201), Ibnu Abi Syaibah (2/108/1/2). Juga diriwayatkan darinya oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya (Q. 99/2) dari beberapa jalur yang berasal dari Muhammad bin Ja’far, tanpa dengan ucapan Al-Hanna’i : “Sedangkan aku pergi ke Kufah….sampai aku kembali”. Meskipun ini tambahan yang benar. Bahkan oleh karenanya hadits ini berlaku. Demikian pula hadits ini juga dikeluarkan oleh Abu Awannah (2/346) dari jalur Abu Dawud (dia adalah Ath-Thayalisi), dia berkata : “Telah bercerita kepadaku Syu’bah. Namun Ath-Thayalisi tidak meriwayatkanya dalam musnadnya”.<br />
(Al-Farsakh) berarti tiga mil. Dan satu mil adalah sejauh mata memandang ke bumi, dimana mata akan kabur ke atas permukaan tanah sehingga tidak mampu lagi menangkap pemandangan. Demikianlah penjelasan Al-Jauhari. Namun dikatakan pula ; batas satu mil adalah jika sekira memandang kepada seseorang di kejauhan, kemudian tidak diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan dan dia hendak pergi atau hendak datang, seperti keterangan dalam Al-Fath (2/467). Dan menurut ukuran sebagian ulama sekarang adalah sekitar 1680 meter.<br />
<em><strong>Kandungan Hukumnya</strong></em>.<br />
Hadits ini menjelaskan bahwa jika seseorang pergi sejauh tiga farsakh (satu arsakh sekitar 8 km), maka dia boleh mengqashar shalat. Al-Khuththabi telah mnjelaskan dalam Ma’alimus Sunan (2/49) : “Meskipun hadits ini telah menetapkan bahwa jarak tiga farsakh merupakan batas dimana boleh melakukan qashar shalat, namun sungguh saya tidak mengetahui seorangpun dari ulama fiqih yang berpendapat demikian”.Dalam hal ini ada beberapa pertimbangan</p>
<p><strong>Pertama</strong> : Bahwa hadits ini memang tetap seperti semula, namun Imam Muslim mengeluarkannya dan tidak dinilai lemah oleh lainnya.</p>
<p><strong>Kedua</strong> : Hadits ini tidak berbahaya dan boleh saja diamalkan. Soal tidak<br />
mengetahui adanya seorangpun ulama fiqih yang mengatakan demikian, itu tidak menghalangi untuk mengamalkan hadits ini. Tidak menemukan bukan berarti tidak ada.</p>
<p><strong>Ketiga </strong>: Sesungguhnya perawinya telah mengatakan demikian, yaitu Anas bin Malik. Sedang Yahya bin Yazid Al-Hanna’i, sebagai perawinya juga telah berfatwa demikian, seperti keterangan yang telah lewat. Bahkan telah berlaku pula dari sebagian sahabat yang melakukan shalat qashar dalam perjalanan yang lebih pendek daripada jarak itu. Maka Ibnu Abi Syaibah (2/108/1) telah meriwayatkan pula dari Muhammad bin Zaid bin Khalidah, dari Ibnu Umar yang menuturkan.</p>
<p>“Shalat itu boleh diqashar dalam jarak sejauh tiga mil”.<br />
Hadits ini sanadnya shahih. Seperti yang telah saya jelaskan dalam Irwa’ul Ghalil (no. 561).</p>
<p>Kemudian diriwayatkan dari jalur lain yang juga berasal dari Ibnu Umar bahwa dia berkata :<br />
“Sesunguhnya aku pergi sesaat pada waktu siang dan aku mengqashar (shalat)”.</p>
<p>Hadits ini sanadnya juga shahih, dan dishahihkan pula oleh Al-Hafidz dalam Al-Fath (2/467). Kemudian dia meriwayatkan dari Ibnu Umar (2/111/1).</p>
<p>“Sesunngguhnya dia mukim di Makkah dan manakala dia keluar ke Mina, dia<br />
mengqashar (shalat)”.</p>
<p>Hadits ini sanadnya juga shahih, dan dikuatkan. Apabila penduduk Makkah hendak keluar bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Mina, dalam haji Wada’, maka mereka mengqashar shalat juga sebagaimana sudah tidak ada lagi dalam kitab-kitab hadits. Sedangkan jarak antara Makkah dan Mina hanya satu farsakh. Ini seperti keterangan dalam Mu’jamul Buldan.</p>
<p>Sementara itu Jibilah bin Sahim memberitahukan : “Aku mendengar Ibnu Umar berkata :<br />
“Kalau aku keluar satu mil, maka aku mengqashar shalat”</p>
<p>Hadits ini disebutkan pula oleh Al-Hafidz dan dinilainya shahih.</p>
<p>Hal ini tidak menafikan terhadap apa yang terdapat dalam Al-Muwatha maupun lainnya dengan sanad-sanadnya yang shahih, dari Ibnu Umar, bahwa dia mengqashar dalam jarak yang jauh daripada itu. Juga tidak menafikan jarak perjalanan yang lebih pendek daripada itu. Nash-nash yang telah saya sebutkan adalah jelas memperbolehkan mengqashar shalat dalam jarak yang lebih pendek daripada itu. Ini tidak bisa disanggah, terlebih lagi karena adanya hadits yang menunjukkan lebih pendek lagi daripada itu.</p>
<p>Al-Hafidzh telah menandaskan di dalam Al-Fath (2/467-468).</p>
<p>“Sesunguhnya hadits itu merupakan hadits yang lebih shahih dan lebih jelas dalam menerangkan soal ini. Adapun ada yang berbeda dengan nya mungkin soal jarak diperbolehkannya mengqashar, dimana bukan batas akhir perjalanannya.</p>
<p>Apalagi Al-Baihaqi juga menyebutkan bahwa Yahya bin Yazid bercerita : “Saya bertanya kepada Anas tentang mengqashar shalat. Saya keluar Kufah, yakni Bashrah, saya shalat dua raka’at dua raka’at, sampai saya kembali. Maka Anas berkata ; (kemudian menyebutkan hadits ini)”.</p>
<p>Jadi jelas bahwa Yahya bin Yazid bertanya kepad Anas tentang diperbolehkannya mengqashar shalat dalam bepergian bukan tentang tempat dimana dimulai shalat qashar. Kemudian yang benar dalam hal ini adalah bahwa soal qashar itu tidak dikaitkan dengan jarak perjalanan tetapi dengan melewati batas daerah dimana seorang telah keluar darinya. Al-Qurthubi menyanggahnya sebagai suatu yang diragukan, sehingga tidak dapat dijadikan pegangan. Jika yang dimaksudkannya adalah bahwa jarak tiga mil itu tidak bisa dijadikan pegangan adalah bagus. Akan tetapi tidak ada larangan untuk berpegang pada batas tiga farsakh. Karena tiga mil memang terlalu sedikit maka diambil yang lebih banyak sebagai sikap berhati-hati.</p>
<p>Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan dari Hatim bin Ismail, dari Abdurrahman bin Harmilah yang menuturkan : “Aku bertanya kepada Sa’id bin Musayyab :</p>
<p>“Apakah boleh mengqashar shalat dan berbuka di Burid dari Madinah ?” Dia menjawab : “Ya”. Wallahu a’lam.</p>
<p>Saya berkata : Sanad atsar ini, menurut Ibnu Abi Syaibah (2/15/1) adalah shahih.</p>
<p>Diriwayatkan dari Allajlaj, dia menceritakan.</p>
<p>“Kami pergi bersama Umar Radhiyallahu ‘anhu sejauh tiga mil, maka kami diberi keringanan dalam shalat dan kami berbuka”.</p>
<p>Hadits ini sanadnya cukup memadai untuk perbaikan. Semua adalah tsiqah, kecuali Abil Warad bin Tsamamah, dimana hanya ada tiga orang meriwayatkan darinya. Ibnu Sa’ad mengatakan : “Dia itu dikenal sedikit haditsnya”.</p>
<p><em>Atsar-atsar itu menunjukkan diperbolehkan melakukan shalat qashar dalam jarak yang lebih pendek daripada apa yang terdapat dalam hadits tersebut</em>.</p>
<p><em>Ini sesuai dengan pemahaman para sahabat Radhiyallahu anhum. Karena dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah, kata safar (bepergian) adalah mutlak, tidak dibatasi oleh jarak tertentu, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.“Artinya : </em><strong><em>Dan apabila kamu berpergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat….”</em></strong><em> [An-Nisaa : 101]</em></p>
<p>Dengan demikian maka tidak ada pertentangan antara hadits tersebut dengan atsar-atsar ini. Karena ia memang tidak menafikan diperbolehkannya qashar dalam jarak bepergian yang lebih pendek daripada yang disebutkan di dalam hadits tersebut.</p>
<p>Oleh karena itu Al-Allamah Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad (juz I, hal. 189) mengatakan : “<em>Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasi bagi umatnya pada jarak tertentu untuk mengqashar shalat dan berb</em>uka. Bahkan hal itu mutlak saja bagi mereka mengenai jarak perjalanan itu. Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersilahkan kepada mereka untuk bertayamum dalam setiap bepergian. Adapun mengenai riwayat tentang batas sehari, dua hari atau tiga hari, sama sekali tidak benar. Wallahu ‘alam”.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan : “Setiap nama dimana tidak ada batas tertentu baginya dalam bahasa maupun agama, maka dalam hal itu dikembalikan kepada pengertian umum saja, sebagaimana ‘bepergian” dalam pengertian kebanyakan orang yaitu bepergian dimana Allah mengaitkannya dengan suatu hukum”.</p>
<p>Para ulama telah berbeda pendapat mengenai jarak perjalanan diperbolehkannya qashar shalat. Dalam hal ini ada lebih dari dua puluh pendapat. Namun apa yang kami sebutkan dari pendapat Ibnul Qayyim dan Ibnu Taimiyah adalah yang paling mendekati kebenaran, dan lebih sesuai dengan kemudahan Islam.</p>
<p>Pembatasan dengan sehari, dua hari, tiga hari atau lainnya, seolah juga mengharuskan mengetahui jarak perjalanan yang telah ditempuh, yang tentu tidak mampu bagi kebanyakan orang. Apalagi untuk jarak yang belum pernah ditempuh sebelumnya.</p>
<p>Dalam hadits tersebut juga ada makna lain, yakni bahwa qashar itu dimulai dari sejak keluar dari daerah. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama.</p>
<p>Sebagaimana dalam kitab Nailul Authar (3/83) dimana penulisnya mengatakan :</p>
<p>“Sebagian ulama-ulama Kufah, manakala hendak berpergian memilih shalat dua raka’at, meskipun masih di daerahnya. Sebagian mereka ada yang berkata :”Jika seseorang itu naik kendaraan, maka qashar saja kalau mau”.</p>
<p>Sementara itu Ibnul Mundzir lebih cenderung kepada pendapat yang pertama. Dimana mereka sepakat bahwa boleh qashar setelah meninggalkan rumah. Namun mereka berbeda mengenai sesuatu sebelumnya. Tapi hendaknya seseorang menyempurnakan sesuatu yang perlu disempurnakan sehingga dia diperbolehkan mengqashar shalat. Ibnul Mundzir berkata lagi :</p>
<p>“Sungguh saya tidak mengetahui bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengqashar shalat dalam suatu perjalanannya, kecuali setelah keluar dari Madinah”.</p>
<p>Saya menemukan : Sesungguhnya hadits-hadits yang semakna dengan hadits ini adalah banyak. Saya telah mengeluarkan sebagian darinya dalam Al-Irwa’ yaitu dari hadits Anas, Abi Hurairah, Ibnu Abbas dan lain-lainnya. Silahkan periksa no. 562 !</p>
<p>[Disalin dari buku Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah Wa Syaiun Min Fiqhiha Wa Fawaaidiha, edisi Indonesia Silsilah Hadits Shahih dan Sekelumit Kandungan Hukumnya, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan CV. Pustaka Mantiq, hal. 362-367 penerjemah Drs.H.M.Qadirun Nur]</p>
<p><ins> </ins></p>
<p><ins> </ins></p>
<br /> Tagged: <a href='http://generasianaksholeh.wordpress.com/tag/safar/'>safar</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/generasianaksholeh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/generasianaksholeh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/generasianaksholeh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/generasianaksholeh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/generasianaksholeh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/generasianaksholeh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/generasianaksholeh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/generasianaksholeh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/generasianaksholeh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/generasianaksholeh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/generasianaksholeh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/generasianaksholeh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/generasianaksholeh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/generasianaksholeh.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=generasianaksholeh.wordpress.com&amp;blog=12138555&amp;post=3&amp;subd=generasianaksholeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://generasianaksholeh.wordpress.com/2010/02/20/batasan-safar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">fajarilahibatam</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
