Skip to content

ILMU ITU DIDATANGI

20 Februari 2010
tags:

Al-Hamdu Lillah, Dia-lah menciptakan kita dan amal kita, bertaqwalah kita kepada-Nya dan perbaikilah amal kita dengan syari’at-Nya dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah Tabaaraka wa Ta’ala baikan dan berkah-kan usaha antum dalam meniti jalan-Nya.

Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi. Dengan berinteraksi, mereka dapat mengambil dan memberikan manfaat. Salah satu praktek yang merupakan hasil interaksi sesama manusia adalah terjadinya jual beli yang dengannya mereka mampu mendapatkan kebutuhan yang mereka inginkan. Islam pun mengatur permasalahan ini dengan rinci dan seksama sehingga ketika mengadakan transaksi jual beli, manusia mampu berinteraksi dalam koridor syariat dan terhindar dari tindakan-tindakan aniaya terhadap sesama manusia, hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan ajaran yang bersifat universal dan komprehensif.

Kondisi umat ini memang menyedihkan, dalam praktek jual beli mereka meremehkan batasan-batasan syariat, sehingga sebagian besar praktek jual beli yang terjadi di masyarakat adalah transaksi yang dipenuhi berbagai unsur penipuan, keculasan dan kezaliman. Lalai terhadap ajaran agama, sedikitnya rasa takut kepada Allah merupakan sebab yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut, tidak tanggung-tanggung berbagai upaya ditempuh agar keuntungan dapat diraih, bahkan dengan melekatkan label syar’i pada praktek perniagaan yang sedang marak belakangan ini walaupun pada hakikatnya yang mereka lakukan itu adalah transaksi ribawi.

Jika kita memperhatikan praktek jual beli yang dilakukan para pedagang saat ini, mungkin kita dapat menarik satu konklusi, bahwa sebagian besar para pedagang dengan “ringan tangan” menipu para pembeli demi meraih keuntungan yang diinginkannya, oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ التُّجَّارَ هُمْ الْفُجَّارُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ قَالَ بَلَى وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ وَيَحْلِفُونَ وَيَأْثَمُونَ

“Sesungguhnya para pedagang itu adalah kaum yang fajir (suka berbuat maksiat), para sahabat heran dan bertanya, “Bukankah Allah telah menghalalkan praktek jual beli, wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Benar, namun para pedagang itu tatkala menjajakan barang dagangannya, mereka bercerita tentang dagangannya kemudian berdusta, mereka bersumpah palsu dan melakukan perbuatan-perbuatan keji.” (Musnad Imam Ahmad 31/110, dinukil dari Maktabah Asy Syamilah)

Oleh karena itu seseorang yang menggeluti praktek jual beli wajib memperhatikan syarat-syarat sah praktek jual beli agar dapat melaksanakannya sesuai dengan batasan-batasan syari’at dan tidak terjerumus ke dalam tindakan-tindakan yang diharamkan .

Diriwayatkan dari Amirul Mu’minin ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

لَا يَبِعْ فِيْ سُوْقِنَا إِلاَّ مَنْ يَفْقَهُ، وَإِلِا أَكَلَ الرِّباَ

“Yang boleh berjualan di pasar kami ini hanyalah orang-orang yang faqih (paham akan ilmu agama), karena jika tidak, maka dia akan menerjang riba.”


Ikhwan wa Akhwat Fillah,Hadirilah kajian Kitab Bulughul Mahrom-bab Al-Buyu’ (jual Beli)yang mana sebagai pengganti kajian Siroh Nabi yang mana sudah selesai.Dan alhamdulillah kajian pertama sudah di laksanakan kamis minggu lalu.
Kajian Rutin “Kitab Bulughul Mahrom-Bab Jual beli”
Pembawa materi : Ust. Abu Fairuz,Lc

Hari/Waktu     : Setiap hari Kamis,Ba’da Sholat Isya.
Tempat         :  Masjid Sabiilun Najaati,komplek SDIT Fajar Ilahi,MKGR-Batuaji Batam

” Ilmu Itu Kita Datangi, Bukan Ilmu Yang mendatangi Kita ” Hadis riwayat Abu Hurairah radiyallahu anhu ia berkata, Nabi salallahu ‘alaihi wasallam. bersabda, Sesungguhnya Allah yang Maha Memberkahi lagi Maha Tinggi memiliki beberapa malaikat yang selalu mengelilingi bumi dan jumlahnya terus bertambah. Mereka senantiasa mengamati forum-forum zikir(kajian ilmu). Apabila mereka mendapati ada suatu forum zikir, maka mereka akan ikut duduk di sana. Dengan sayapnya, mereka akan menganjurkan kawan-kawannya untuk ikut hadir dalam majlis tersebut, hingga para malaikat itu memenuhi antara mereka berada dan langit dunia.

Apabila orang-orang yang hadir dalam forum tersebut berpisah, mereka naik tangga menuju ke langit. Allah yang Maha Mulia lagi Maha Agung dan lebih tahu daripada mereka bertanya, dari mana kalian Mereka menjawab, Kami datang dari tempat hamba-hamba-Mu di dunia. Mereka mensucikan, mengagungkan, membesarkan, memuji dan memohon kepada-Mu. Allah bertanya, Apa yang mereka mohonkan kepadaku Para malaikat itu menjawab, Mereka memohon surga kepada-Mu. Allah bertanya, Apakah mereka sudah pernah melihat surga-Ku Para malaikat itu menjawab, Belum, Tuhan kami.

Allah berfirman, Bagaimana seandainya mereka pernah melihat surga-Ku Para malaikat itu juga berkata, Hamba- hamba-Mu itu juga memohon perlindungan kapada-Mu. Allah bertanya, Mereka memohon perlindungan-Ku dari apa Para malaikat menjawab, dari neraka-Mu, wahai Tuhan kami. Allah bertanya, Apakah mereka sudah pernah melihat neraka-Ku Para malaikat menjawab, Belum.

Allah berfirman, Bagaimana seandainya mereka sudah pernah melihat neraka-Ku Para malaikat itu selanjutnya mengatakan, dan mereka juga memohon ampun kepada-Mu. Allah berfirman, Aku sudah mengampuni mereka. Aku sudah berikan apa yang mereka mohon dan sudah Aku penuhi permohonan pahala mereka. Para malaikat itu berkata, Wahai Tuhan
kami! Di antara mereka terdapat seorang hamba bernama si Fulan, dia orang yang penuh dosa. Sebetulnya dia hanya lewat saja lalu bergabung dengan orang-orang yang berada di forum itu. Allah berfirman, Aku juga telah mengampuninya. Mereka adalah kaum yang forumnya tidak diganggu oleh orang tersebut (Hadist terdapat dalam shahih Muslim)

Demikianlah para Ikhwan dan Akhwat bahwa Ilmu itu harus di datangi di majelisnya, karena haknya ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.
Dan betapa Keutamaannya dan mulyanya orang-orang yang memuliakan majelis Ilmu serta Apakah kita-kita ini tidak tergiur dengan keutamaan dan fadilah
yang diberikan Allah Rabbul’alamin ?.

Alangkah naifnya kita ini yang masih sedikit Ilmunya sudah merasa cukup dengan mendengarkan radio dari rumah, membaca buku sendiri dan lain-lain sedangkan para ulama salaf mereka hadir di majelis-majelis ilmu untuk mendengarkan dan menelaah guna menambah kuwalitas IMAN dan ILMU serta AMALAN mereka dan meraih fadilah keutamaan memuliakan majelis-majelis Ilmu.

( Agus Purwanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: